Fakta dan Mitos Seputar Alzheimer
Fakta dan Mitos Seputar Alzheimer

5 Fakta dan Mitos Seputar Alzheimer

5/5 (2)

5 Fakta dan Mitos Seputar Alzheimer – Mungkin Anda pernah mendengar istilah ‘penyakit lupa’, atau kadang kala orang usia lanjut sering mengeluh suka melupakan hal tertentu. Janganlah Anda anggap sepele keluhan itu, karena bisa jadi keluhan itu merupakan bagian dari penyakit Alzheimer. Dan tidak sedikit juga salah paham mengenai kondisi ini di tengah masyarakat, simak fenomena paling umum dari sebagian mispersepsi Alzheimer di masyarakat:

Fakta dan Mitos Seputar Alzheimer

Banyak Belajar Banyak Lupa

Mitos seputar Alzheimer: Banyak Belajar Banyak Lupa
Fakta tentang Alzheimer: Salah. Lupa yang disebabkan oleh Alzheimer dikarenakan penurunan fungsi otak, di mana dipicu oleh kematian dari sel-sel otak. Selain itu, pada otak penderita Alzheimer juga ditemukan plak protein abnormal yang menyebabkan kematian sel.  Apabila dilakukan pemotongan pada otak penderita penyakit Alzheimer, terlihat otaknya menjadi lebih kecil dibandingkan otak normal. Nah kegiatan belajar justru melatih dan menjaga fungsi otak. Semakin konsisten Anda melatihnya, maka akan semakin baik performanya. Justru banyak belajar, tidak mudah lupa.

Ketika Tua Nanti Kita Semua Mutlak Pikun

Fakta dan mitos seputar alzheimer lainnya ialah Ketika Tua Nanti Kita Semua Mutlak Pikun.

Mitos: Ketika Tua Nanti Kita Semua Mutlak Pikun
Fakta: Tidak sepenuhnya benar. Sebagian manula ditemukan masih memiliki daya ingat yang baik. Alzheimer merupakan kondisi penyakit yang terjadi pada sebagian orang di usia tua. Dari beberapa jurnal ditemukan saran pencegahan Alzheimer adalah berupa melatih otak dengan cara membaca, bermain puzzle, menulis jurnal keseharian, olahraga atau pun asupan makan. Dengan menjalankan kiat pencegahan Alzheimer, Anda dapat mengurangi risiko terkena Alzheimer di masa tua Anda dari sekarang.

Ukuran Otak Penderita Alzheimer Sama dengan Normal

Mitos: Ukuran Otak Penderita Alzheimer Sama dengan Normal
Fakta: Salah. Pada otak penderita Alzheimer ditemukan plak protein abnormal yang menyebabkan kematian sel.  Apabila dilakukan pemotongan pada otak penderita penyakit Alzheimer, terlihat otaknya menjadi lebih kecil dibandingkan otak normal.

Alzheimer Hanya Berdampak Pada Ingatan

Fakta dan mitos seputar alzheimer lainnya ialah Alzheimer Hanya Berdampak Pada Ingatan.

Mitos: Alzheimer Hanya Berdampak Pada Ingatan
Fakta: Salah. Pada keadaan penyakit yang lanjut, seorang penderita Alzheimer bisa memiliki kesulitan dalam mengganggu aktivitas sehari-hari dan mengalami gangguan berpikir. Penderita Alzheimer dapat memiliki masalah berbicara, merasa cemas dan gelisah. Berikut ini adalah beberapa gejala umum dari penyakit Alzheimer: Hilang ingatan, suka bingung dengan waktu dan tempat (disorientasi), gangguan berbicara, kesulitan menyelesaikan tugas yang biasa dilakukan, ceroboh dan lalai.

Ginkgo Biloba adalah Obat Alzheimer

Fakta dan mitos seputar alzheimer lainnya ialah Ginkgo Biloba adalah Obat Alzheimer

Mitos: Ginkgo Biloba adalah Obat Alzheimer
Fakta: Salah. National Center for Complementary dan Alternatif Medicine, bagian dari National Institutes of Health, Amerika Serikat mendanai sebuah penelitian mengenai ginkgo biloba yang melibatkan enam pusat medis dan lebih dari 3.000 orang berusia antara 72 hingga 96 tahun selama tujuh tahun. Hasil penelitian tidak menemukan hubungan ekstrak ginkgo biloba memberikan efek penurunan kognitif pada orang lanjut usia, khususnya memori, konstruksi visual-spasial, bahasa, perhatian dan kecepatan psikomotor.

Fakta tentang Alzheimer lainnya

Penyakit Alzheimer adalah kondisi progresif yang ireversibel yang menghancurkan ingatan dan fungsi mental yang akhirnya berdampak pada kondisi fisik penting lainnya.

Penyakit ini adalah penyebab paling umum dari demensia, yang menggambarkan sekelompok gangguan otak yang mengikis kemampuan kognitif dan keterampilan komunikasi seseorang. Jika seseorang menderita Alzheimer, mereka biasanya mengalami kebingungan ringan dan kesulitan mengingat hal-hal yang harus dimulai, tetapi akhirnya mereka mungkin melupakan orang-orang penting dalam hidup mereka, mengalami perubahan kepribadian yang dramatis, memiliki kesulitan dalam merencanakan, berkomunikasi, dan membuat keputusan yang aman, dan membutuhkan perawatan penuh waktu.

Alzheimer berkembang melalui lima tahap, dan pada tahap pertama tidak menunjukan gejala sama sekali.

Tahap pertama penyakit alzheimer disebut penyakit Alzheimer praklinisc. Orang-orang dalam tahap ini tidak menunjukkan gejala luar apa pun dari kondisi tersebut, tetapi mereka mengalami perubahan otak yang akan menginduksi tanda-tanda Alzheimer. Meskipun gejala tidak tampak pada tahap ini, para ahli berupaya mengembangkan teknologi pencitraan otak inovatif yang mungkin dapat menangkap tanda-tanda kondisi pada tahap ini.

Setelah tahap praklinis Alzheimer, yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun, seseorang kemudian mengalami apa yang disebut kerusakan kognitif ringan karena penyakit Alzheimer. Ini meliputi kebingungan, kesulitan dalam membuat keputusan, dan masalah mengingat hal-hal seperti percakapan baru-baru ini atau janji yang akan datang, tetapi tidak pada tingkat yang cukup parah yang dapat memengaruhi pekerjaan atau hubungan seseorang.

Fase berikutnya adalah demensia ringan karena penyakit Alzheimer. Gejala ini menjadi cukup jelas yang mengarah ke diagnosis Alzheimer. Pada tahap ini, Alzheimer memengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang dengan gejala seperti kehilangan ingatan jangka pendek, kesulitan dengan pemecahan masalah, pengambilan keputusan yang buruk, perubahan suasana hati, kehilangan barang, tersesat bahkan di lokasi yang sudah dikenal, dan mengalami kesulitan mengekspresikan diri. Ini bisa didiagnosa pada orang yang menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali karena mereka lupa jawabannya, dan mudah tersinggung atau marah ketika dunia mereka mulai bergeser dengan cara yang membingungkan.

Ini akhirnya berkembang menjadi demensia moderat karena penyakit Alzheimer, yang pada intinya merupakan meningkatnya gejala. Seseorang dengan tahap Alzheimer cenderung membutuhkan lebih banyak perawatan sehingga melewati hari dan menghindari situasi berbahaya, seperti tersesat. Ini juga ketika ingatan jangka panjang menjadi lebih terganggu, sehingga seseorang dengan tingkat Alzheimer ini mungkin mulai lupa siapa orang yang mereka cintai atau membuat mereka bingung satu sama lain.

Terakhir, selama demensia berat karena penyakit Alzheimer, seseorang mungkin tidak dapat berkomunikasi secara koheren, bahkan jika mereka mampu berbicara secara fisik. Ketika mereka kehilangan kendali atas fungsi fisik seperti berjalan, memegang kepala mereka, dan aktivitas kandung kemih dan usus, mereka mungkin bergantung pada orang lain untuk merawat mereka. Orang-orang dengan tahap akhir Alzheimer mungkin juga mengalami kesulitan menelan. Sayangnya, ini sering mengakibatkan kematian karena Alzheimer. Makanan atau minuman dapat berakhir di paru-paru karena gangguan menelan, menyebabkan pneumonia, atau seseorang dapat mengalami dehidrasi atau kekurangan gizi.

Tidak ada waktu yang tertentu pada setiap orang yang mengalami Alzheimer dalam perkembangan masing-masing tahap ini, tetapi orang dengan kondisi tersebut dapat hidup delapan sampai 10 tahun setelah diagnosis menderita alzheimer.

Dokter belum mengetahui dengan pasti penyebab penyakit Alzheimer, tetapi perubahan otak pasti merupakan salah satu yang terkait.

Penyakit Alzheimer merusak dan melumpuhkan sel-sel otak. Kerusakan ini yang memengaruhi kemampuan kognitif, sosial, dan fisik seseorang.
Para peneliti juga menemukan dua kelainan spesifik pada otak orang-orang yang menderita penyakit Alzheimer. Salah satunya karena ia memiliki plak, atau penumpukan protein yang disebut beta-amyloid yang dapat membahayakan sel-sel otak, termasuk dengan menghambat komunikasi sel-ke-sel. Yang lain ialah kusutnya dalam sistem transportasi yang bergantung pada sel-sel otak untuk memindahkan nutrisi dan zat-zat lain yang diperlukan agar otak berfungsi dengan baik.

Sampai saat ini belum ditemukan obat pasti untuk pengobatan Alzheimer. Terdapat beberapa obat-obatan untuk penyakit ini, dan penggunaannya harus berada dibawah supervisi dokter. Idealnya, pengobatan penyakit Alzheimer membutuhkan sebuah tim dokter yang melibatkan dokter penyakit dalam (spesialis geriatri-yang merawat orang tua), dokter  saraf, dan psikiater.

Selain itu, dukungan keluarga dan orang-orang terdekat juga diperlukan dalam membantu seorang penderita Alzheimer. Keluarga dapat membantu penderita Alzheimer untuk melakukan kegiatan sehari-hari, aktivias fisik dan melakukan interaksi sosial. Penderita Alzheimer juga perlu dibantu untuk mengingat dengan berbagai alat pembantu seperti kalender harian atau jurnal harian.

Apabila anda mengalami keluhan ini atau mengenal kerabat dengan keluhan yang dipaparkan di atas, ada baiknya anda berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Demikianlah artikel mengenai 5 Fakta dan Mitos Seputar Alzheimer yang dikutip dari Klikdokter.com, semoga bermanfaat.

Artikel ini masuk dalam pembahasan:

- mitos gingko biloba, - Mitos orang yang sering mengeluh

data-ad-format="link">
5 Fakta dan Mitos Seputar Alzheimer Post in | Last updated: September 30th, 2018 | 741 views
Saya seorang Blogger, Internet marketer, dan Independent distributor produk kesehatan