7 Mitos Tentang Nutrisi Pada Anak

By | October 6, 2020
Mitos seputar nutrisi pada anak

Salah satu masalah kesehatan yang memprihatinkan pada anak saat ini ialah kegemukan yang kemudian meningkatkan jumlah penderita diabetes pada anak dan mereka yang pada masa anak-anaknya gemuk tidak sedikit yang tumbuh dewasa juga mengalami obesitas dengan sekian banyak keluhan penyakit.

Pola makan merupakan sesuatu yang anak serap dari lingkungannya, oleh karena itu anak-anak yang orang tuanya terbiasa dengan diet tertentu akan ia serap dan tiru. Dengan demikian, mengajarkan anak agar terbiasa dengan menu makanan sehat dimulai dari rumah dimana para orang tua laiknya memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya.

Mitos seputar nutrisi pada anak (Ilustrasi/pixabay)

Jika orang tua jarang mengonsumsi sayuran, maka jangan terlalu banyak berharap bahwa anak akan tiba-tiba gemar memakan sayuran. Jika orang tua terbiasa mengonsumsi permen dan makanan ringan sebagai selingan, maka anak-anak akan menirunya. Hal yang sama dengan kebiasaan jajan atau memakan makanan selingan seperti es krim, soda pop, gorengan atau yang lainnya. Namun, disarankan agar para orang tua juga tidak terlalu ekstrem mengajarkan anaknya mengenai memilah makanan, misalnya dengan larangan memakan sesuatu yang manis karena akan ada saat ketika anak-anak akan berbaur dengan anak lainnya dan dihidangkan sesuatu yang manis misalkan pada saat perayaan ulang tahun teman-temannya.

Berikut beberapa mitos tentang nutrisi pada anak, kebanyakan dari itu merupakan informasi yang dihidangkan oleh industri makanan dengan motif ekonomi agar anak-anak tertarik mengonsumsinya.

  1. Selama anak saya minum vitamin setiap hari maka nutrisinya terjamin

Mengonsumsi vitamin tidak diragukan lagi merupakan sesuatu yang baik bagi anak-anak. Akan tetapi yang harus disadari ialah bahwa multivitamin yang terkandung dalam kemasan suplemen anak hanya sebagian kecil dari berbagai beragam nutrisi phytochemicals yang ada di dalam tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian, walaupun sang buah hati terbiasa minum vitamin secara teratur namun itu bukan berarti hal itu sebagai pengganti dari sumber makanan yang utuh.

  1. Jika anak memakan makanan rendah lemak (low fat) ia akan lebih sehat

Ada dua masalah besar dengan makanan rendah lemak. Hal yang pertama ialah beberapa jenis lemak penting untuk perkembangan optimal otak dan sistem saraf anak mengingat kandungan terbesar otak ialah lemak. Lemak juga merupakan salah satu elemen penting dalam mekanisme anti peradangan dan salah satu pembentuk hormon steroid. Banyak peneliti menemukan bahwa meningkatnya masalah kesehatan seperti gangguan perhatian (attention deficit disorder) dan asma ada yang berkaitan dengan konsumsi lemak yang kurang dalam diet anak-anak. Masalah yang kedua ialah tidak sedikit makanan yang berlabel (low fat) atau rendah lemak mengandung tambahan gula di dalamnya.

  1. Minum minuman bersoda sesekali tidak membahayakan anak

Masalahnya kebanyakan minuman bersoda biasanya memiliki kandungan gula yang sangat tinggi (sekitar 9 sendok teh gula). Hal ini dapat membuat lonjakan kadar gula darah yang cukup tinggi dan dapat memicu ketagihan. Ada solusi yang lebih sehat untuk menghidangkan minuman bersoda bagi anak-anak yaitu dengan mencampur jus buah dengan air soda.

  1. Jika anak-anak memilih untuk menjadi vegetarian orang tua tidak lagi khawatir masalah gizinya

Tidak lazim bagi anak pra-remaja untuk menjadi seorang vegetarian, akan tetapi jika anak Anda bersikukuh untuk melakukan diet vegetarian maka pastikan bahwa ia memakan cukup kacang-kacangan, biji-bijian, gandum utuh, dan telur. Adapun makanan yang terbuat dari kacang kedelai seperti tahu, tempe dan susu kedelai tidak dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari.

  1. Anak-anak tidak boleh terlalu banyak makan daging

Sebenarnya mengonsumsi daging bukan masalah utama, akan tetapi makanan yang tersaji mendampingi daging apalagi dalam menu fast food itulah yang kurang sehat, seperti roti putih yang rendah serat yang tersaji bersama burger atau hot dog, juga kentang goreng (french fries) yang bukan murni kentang akan tetapi merupakan campuran dari berbagai bahan yang kurang gizinya – oleh karena itu kebanyakan restoran cepat saji bisa menjual dengan harga murah, dan tak lupa minuman manis yang sering dihidangkan satu paket bersamanya. Selain itu, hindari mengonsumsi daging olahan seperti sosis dan hot dog yang mengandung bahan pengawet.

  1. Asalkan anak minum segelas susu setelah makan maka kebutuhan gizinya terjamin

Susu bukan satu-satunya sumber gizi yang penting bagi tubuh, kerap kali iklan susu yang menghubungkan susu dengan kecerdasan anak membuat orang tua cenderung memberikan susu secara berlebihan kepada anaknya. Pada kenyataannya tidak sedikit anak yang mempunyai alergi terhadap produk yang terbuat dari susu dan angka kejadian osteoporosis justru paling tinggi di negara yang masyarakatnya banyak mengonsumsi susu. Jadi bijaklah dalam mengonsumsi susu, jangan secara berlebihan. Selain itu, lebih baik bila memilih produk susu yang organik atau biologis karena tidak mengandung pestisida, hormon dan antibiotik di dalamnya. Yang lebih utama ialah susu bukan pengganti bagi protein yang terkandung dalam daging atau telur.

  1. Makan buah-buahan bisa sebagai ganti sayuran yang kerap tidak disukai anak

Memang makan buah-buahan lebih baik daripada tidak sama sekali makan sayuran, akan tetapi kalau hanya mengandalkan nutrisi dari buah tanpa sayuran maka akan banyak phytochemicals – suatu kandungan yang terdapat di dalam sayuran yang terlewat. Selain itu, kebanyakan kandungan gula di dalam buah-buahan lebih tinggi, oleh karenanya makan buah pas sebagai makanan selingan di sore hari atau sebagai makanan pencuci mulut, akan tetapi buah-buahan tidak dapat menggantikan nutrisi yang terdapat di dalam berbagai macam sayuran.


Sumber : http://www.virginiahopkinstestkits.com/kids_nutrition_dr_john_lee.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *