Inspirasi: Dukungan Keluarga Membuatnya Tegar Melawan Kanker

Inspirasi: Dukungan Keluarga Membuatnya Tegar Melawan Kanker – Artike berikut ini mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi Anda baik yang saat ini menderita penyakit kanker, maupun yang tidak menderita penyakit kanker.

Melihat penampilannya sekarang, siapa sangka kalau ia pernah terbaring lemah tanpa daya karena penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya. Barangkali, tak ada juga yang menduga, rambut indahnya yang sekarang tumbuh normal sudah dua kali mengalami kebotakan.

Indra Iswari Harmani, ibu tiga anak kelahiran Padang ini selalu tampak semangat. Baginya hidup itu indah. “Life is beautiful, enjoy your life. Ini mottoku,” ungkapnya pasti. Setelah merasakan betapa beratnya tekanan selama menghadapi pengakitnya itu, ia berani mengatakan betapa nikmatnya hidup sehat. Tetapi sakit bukan berarti meninggal. “Kita harus memberi contoh kepada keluarga bahwa sakit bukan meninggal. Dengan semangat kita menjadi survive berjuang untuk menjadi pemenang ,” katanya.

Awalnya memang tiada tanda-tanda dan rasa sakit. Karena itu, ketika ia divonis kanker nasofaring stadium II B, Indra sangat syok. Tetapi, ia tak hanyut dalam belenggu kepedihan. Ia masih ingin menemani suami dan mengantar anak-anaknya beranjak dewasa. Ia berekad, harus menang, . Meski melalui hari-hari yang berat dengan rasa sakit yang luar biasa, akhirnya ia berhasil keluar dari deraan kanker yang mematikan itu.

Hanya Benjolan kecil

Berawal dari benjola kecil di bawah rahang yang tampaknya biasa saja, ternyata merupakan bibit dari penyakit kanker nasofaring yang ia derita. Padahal benjolan sebesar biji kacang itu tak memberikan rasa sakit sedikitpun, tapi ketika benjolan itu mulai membesar, ia baru khawatir. Kala itu Indra masih bekerja di Bank Duta Jakarta. Karena khawatir, ia memeriksakan diri ke poliklinik di kantor dan diberi obat. Seiring dengan itu, ia mendatangi pula paranormal. Mereka memberi obat tradisional berupa ramuan yang diminum setiap hari. Meski sudah minum obat, bengkak di lehernya tak kunjung kempes.

Dua tahun lamanya Indra menjalani pengobatan alternatif. Tapi bengkak di lehernya tidak kunjung menyusut. Dokter menyarankan agar ia melakukan rontgen. Saat difoto bagian badan, paru-paru dan sebagainya, tak ada yang mengkhawatirkan. Namun pada hasil CT-scan, dibelakang hidung, antara saluran pernafasan dan pencernaan kelihatan sesuatu yang mencurigakan. Makanya ia diminta melakukan biopsi.

Bulan Februari 1999, ibu kelahiran Padang ini memberanikan diri menjalani biopsi. Menunggu hasilnya, ia sangat stres. Pemeriksaan lab itu cukup lama juga baru bisa diketahui. Menjelang pengambilan hasil ke rumah sakit, ia bersama suaminya Harmani Kusumo sempat mengunjungi seorang paranormal. Menurut si paranormal, ini sejenis kanker agak ganas. Kalau tidak segera diobati, bisa menyebabkan lumpuh. Mendengar kabar itu Indra semakin syok. Bumi terasa runtuh . Ia menangis sekuat-kuatnya. Suaminya berusaha menenangkan dan menghiburnya.

Meski Indra sudah tahu sebelumnya, saat mengambil hasil labor di rumah sakit, dan dinyatakan menderita tumor nasofaring ganas, ia kembali menangis. Namun kali ini, ia merasa ada kekuatan yang mendorongnya . Tiga wajah anak-anaknya yang beranjak remaja saat itu melintas seketika.. Kemal, 16 tahun, Fadhil 13 tahun, dan si bungsu Dela masih 10 tahun. Bila ia menyerah terhadap penyakitnya, bagaimana nasib ketiga anak-anaknya? Mereka masih membutuhkan ibu. Indra tidak sanggup membayangkan kehidupan anak-anak tanpa seorang ibu. Tidak. Sama sekali ia tak boleh berpikir tentang kematian. Seketika itu juga ia seolah didorong oleh tenaga sangat kuat dan bertekad untuk menang. Dorongan lain adalah suaminya. “Saya tidak sanggup mengurus anak-anak sendirian.” Kalimat yang meluncu dari mulut suaminya menjadi cambuk dan dorongan maha kuat baginya. Ia harus tetap hidup di tengah-tengah keluarganya.

Menjalani pengobatan, Indra dan suaminya memilih RS pemerintah di Jakarta yang memiliki peralatan lengkap dan tenga ahli memadai. Ia menjalani radiasi selama 38 kali. Untuk mendukung berhasilnya radiasi, ia juga menjalani kemoterapi. Selama masa radiasi, wajah dan rambutnya tidak boleh tersentuh air. “Seluruh wajahku gosong seperti wajan. Tiga bulan lamanya wajahku tak dicuci. Aku melakukan tayamum jika hendak sholat. Berangsur-angsur, rambut yang selama ini kubanggakan, mulai habis dan nyaris botak,” tuturnya.

Saat radiasi berbarengan dengan kemoterapi adalah masa yang paling berat. ia tidak bisa makan sama sekali. Yang berhasil masuk kedalam rongga mulut hanyalah makanan yang sudah dicairkan. Menelannya, terasa sangat menyakitkan, karena seluruh tenggorokannya seperti dibakar, dan luka. “Selain itu gigiku sudah hancur karena keropos. Jadi daya kunyahnya tak ada lagi. Tapi aku mesti makan. Tubuhku harus mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna. Proses kemoterapi dan radiasi menuntut tubuhku agar selalu berada dalam kondisi fit. Karena setiap 5 kali radiasi, aku harus cek darah dan HB minimal 10. Sendok demi sendok aku paksakan menelan. Alhasil makanku baru selesai jam 12 siang. Padahal aku memulainya jam 7 pagi,” tambahnya.

Dampak yang sangat parah waktu itu, pita suaranya rusak dan air liurnya tidak berproduksi lagi. Praktis ia tak bisa bicara. Untuk berkomunikasi dengan suami dan anak-anak, ia menggunakan tuisan. Menurut dokter, pita suaranya masih bisa diobati. Tapi tentang kelenjar air liur, benar-benar tidak bisa diatasi. Akibatnya, hingga saat ini mulutnya selalu kering karena tidak memproduksi air liur lagi. Selama itu, tubuhnya langsung drop, melorot hingga 10 kilogram. Hari-hari yang ia lewati terasa sangat berat.

Dukungan Keluarga Membuatnya Tegar Melawan KankerSejak remaja, bahkan kala di SMA Don Bosco Padang tahun tujuh puluhan ia sudah terbiasa aktif dan berorganisasi. Ketika divonis mengidap penyakit serius itu, ia tetap tak bisa diam. Ia seolah tak peduli pada penyakitnya itu. Kepada anak-anak dan suaminya, Indra meminta supaya tidak memperlakukannya seperti orang sakit. Ia ingin menjalani hidupnya seperti orang normal, tetap ke supermarket, jalan-jalan, juga mengunjungi sanak famili.

Praktis, hanya 3 bulan ia istirahat total. Perlahan-lahan, bengkak di lehernya mulai hilang. Pita suaranya pun mulai membaik. Sedikit-sedikit suaranya mulai keluar. Ia bersyukur pada Allah atas segala karunia Nya. Allah telah mendengar zikir dan doanya dalam setiap tahajud. Dorongan dari keluarga, juga membuatnya tak merasakan sakit.

Bulan September 1999, ia dinyatakan bebas dari kanker. Banyak pantangan yang harus dipatuhi. Ia mengurangi makanan yang mengandung pengawet dan makanan yang sudah dipanaskan berulang-ulang. Selain obat-obatan yang diberikan dokter, ia mengkonsumsi ganggang coklat dikemas dalam bentuk kapsul. Setiap hari Indra menelan 18 kapsul. Ia mendapat informasi ganggang coklat ini dari seorang teman. Katanya, pemilik pabrik ganggang coklat di Bandung ini pernah mengidap penyakit kanker langit-langit.

Setelah mengkonsumsi ganggang coklat secara rutin, berangsur-angsur rambutnya mulai tumbuh. Jadi, ia tak perlu menggunakan wig lagi. Kulit wajahnya sudah kelihatan bersih, tidak segosong dulu. Meski bekas hitamnya masih kelihatan, tapi ia bisa mengakalinya dengan make up. Sebagai rasa syukur, ia dan suaminya menunaikan ibadah haji tahun 2000. Di Baitullah, ia panjatkan syukur tak terhingga atas kesembuhan yang diberikan Tuhan.

Sepulangnya dari Mekkah, ia kembali beraktifitas layaknya manusia normal lainnya. Setelah kembali menunaikan ibadah haji, kegiatannya dengan berbagai aktifitas terutama dalam pekerjaan, kembali berjalan normal. Diantara kesibukan itu, Indra tetap menyempatkan diri kontrol ke rumah sakit sekali dalam 6 bulan, CT-scan dan MRI sekali setahun. Sebab, kanker bisa saja kembali datang.

Kembali Berulang

Selama 2 tahun lewat, hasil pemeriksaannya masih negatif. Penghujung 2004, saat melakukan pengecekan CT-scan dan MRI, dokter THT dan dokter ahli radiasi, mereka mencurigai ada kanker lagi di tempat semula. Untuk lebih meyakinkan, dokter itu mencek ulang diagnosis CT-scan dan MRI. Ternyata hasilnya positif. Dokter menyarankan agar ia melakuan pengobatan di Singapore, karena di sana ada alat super canggih yang tidak ada di Indonesia.

Bulan Oktober 2004, Indra dan suaminya Harmani berangkat ke Singapore. Tujuannya adalah RS khusus kanker. Ia sempat bertanya pada dokter di sana “Dok, kenapa kanker ini bisa datang lagi?” dokter tak bisa menjawab. Dia malah bilang “You are lucky woman”. Lho. Jika beruntunga rtinya ia tak harus ke Singapore. “Ya, kamu beruntung karena kanker itu kembali setelah 5 tahun. Ini termasuk kategori yang kembali setelah 5 tahun. Pasien lain, setahun, maksimal dua tahun biasanya sudah menyebar ke tempat lain. Jadi kamu termasuk beruntung,” kata dokter itu seraya mencandainya.

Saat awal menjalani radiasi lagi Indra berusaha tegar dan menyerahkan segalanya pada kehendak Allah. “Kulihat, memang alat radiasinya sangat canggih, bisa berputar 180 derajat. Dibawah alat itu, ada tempat tidur yang pas untuk tubuhku. Wajahku ditutupi alat semacam topeng, yang dibuat khusus untuk ukuran dan pola wajah. Topeng itu dikunci ke wajah pasien sehingga tak bergerak sama sekali. Mereka sudah membuat gambar di topeng itu. Jadi tembakan nuklir harus pas mengenai sasaran. Meleset sedikt saja, akibatnya sangat berbahaya bagi organ-organ tubuh lain yang tidak terkena kanker. Wajahku harus bersih dari make up. Sebab dikhwatirkan akan memberikan efek buruk. Saat masker dikenakan, alat perasa di mulut sangat tidak enak. Setelah dilakukan penyinaran, muka kelihatan merah, cendrung ada flek-flek hitam dari data dokter, ada 9 titik penyinaran menuju sasaran kanker,” paparnya.

Dukungan Keluarga Adalah Kekuatan

Pada saat-saat awal, suaminya selalu menemani. Namun karena pekerjaan, Harmani lulusn mesin ITB itu harus kembali ke Jakarta. Selama pengobatan, kakak dan adik-adiknya datang bergantian dari Padang, Bogor dan Jakarta. Ia tak pernah dibiarkan sendirian. Selain pihak keluarga, teman-teman dari kantor, bahkan dari organisasi Indo Jalito, juga datang ke Singapore memberiku dukungan moril, jika ada kerabat yang kebetulan transit di singapore, mereka menyempatkan diri menjenguk. Saat Lebaran Idul Fitri 2004, ia sekeluarga merayakannya di Singapore.

Dukungan saudara-saudara, suami, anak-anak dan seluruh kerabat, juga bosnya di kantor, adalah merupakan obat paling mujarab dan kekuatan. Ia bersyukur karena telah dianugerahi keluarga, saudara dan teman-teman yang peduli padanya. Mereka, dengan keikhlasan memberi semangat. Selama 24 jam, tak henti-hentinya mereka mengirim doa, baik melalui telpon ataupun sms. Mereka juga mengrimkan buku-buku yang bermanfaat.

Akhir Desember 2004, pengobatannya selesai. Ia kembali ke Jakarta pada minggu kedua bulan Januari 2005. Apakah hasil pengobatan ini betul-betul membuatnya terbebas dari kanker? Wallahualam. Ia tidak bisa meramalkan apa yang akan terjadi kedepan. Segalanya ia kembalikan kepada Allah. “ Aku merasa sekarang kondisiku sudah mulai membaik, berada di tengah-tengah suami dan anak-anak. Aku masih bisa menyaksikan Kemal Baskoro, si sulungku lulus sarjana teknik dan bekerja di perusahaan Gas Field Jkt (perusahaan Aust di Ind). Aku masih dapat menikmati kebahagiaan saat putra kedua kami Fadhil Dewabrata selesai S2 atas beasiswa ITB dan sekarang bekerja di Torishima Pump, Osaka. Aku juga masih sempat mengantarkan si bungsu kami yang tengah menyiapkan skripsinya di Unair Surabaya. Tak henti-hentinya aku bersyukur,” ulas ibu yang sudah 33 tahun menikah ini dengan rasa syukur yang tak bisa ia sembunyikan.

Indra merasa sangat bersyukur. Allah telah memberinya kesempatan menikmati kebahagiaan lebih lama bersama orang-orang yang ia cintai.

Untuk menjaga kondisi agar tetap sehat, hingga saat ini ia selalu mengkonsumsi cukup gizi, sayur organik. Tidak ada pantangan. Memenuhi asupan gizi, ia meminum susu high calorie. Yang paling penting dijaga, menurutnya adalah berat badan agar tidak turun, tentunya selalu berolahraga.

Hingga sekarang, sebagai efek dari kemoterapi dan radisai, diakuinya, air ludahnya tidak berproduksi lagi. Untuk makan, ia harus mendorongnya dengan air. “Jadi banyak minum dari makannya,” ucapnya. Selain itu giginya hancur, hanya bisa mengunyah makanan yang lunak-lunak. Masih efek radiasi kedua telinganya menggunakan alat bantu dengar . Kadang-kadang, telinganya juga mengeluarkan cairan atau darah. Satu lagi akibatnya, ia tak bisa makan yang pedas dan tak boleh terburu-buru. Bila buru-buru , akibatnya banyak ingus dan batuk-batuk, maka hidung akan mengeluarkan darah.

Meski kondisinya cendrung melemah bila kesalahan makanan, tetapi ia bersyukur masih bisa menunaikan ibadah puasa satu bulan penuh. “Aku harus menjaga agar berat badan tidak turun. Dalam puasa, berat badanku bisa turun 3 kg. Sedangkan untuk naiknya susah sekali, karena metabolisme tubuh yang tidak sempurna.Memang sangat diperlukan sabar, ikhlas dan tawakal. Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan manusia. Jadi harus berjuang maksimal agar dreamings come true. Sembuh total,” ujarnya tetap dalam nada semangat.

Selain itu, kunci utama yang ia tanamkan dalam dirinya adalah semangat untuk tetap hidup. Ia ingin memberikan contoh kepada keluarga dan orang lain bahwa sakit bukan meninggal. Syukurnya, anak-anak dan suaminya tidak memperlakukannya seperti orang sakit. Mereka tidak berlebihan terhadap mamanya. “Kalau makan bersama, mereka pasti tanya dulu, mama bisa makan apa? Kalau aku justru merekalah yang utama. Soal kegiatanku mereka percaya, aku bisa mengaturnya dengan baik. Mereka melihat aku enjoy dengan apa yang kulakukan, mereka bisa menerima. Aku sanggat bangga pada suamiku. Kalau dilihat sekilas, ia tampak tenang. Padahal ia sebenarnya lebih sakit lagi sampai tidak bisa bekerja. Dia pernah bilang ke dokter yang menanganiku, bahwa dia akan menjual segala aset yang kami miliki asal isterinya sembuh. Dia akan carikan obat kemanapun asal isterinya sembuh. “Hal itulah yang memicuku selalu kuat berjuang agar menjadi pemenang,” urainya.

Jika hendak melakukan perjalanan beberapa hari, anak-anak dan suaminya selalu memberi dorongan. Indra sendiri yang mempersiapkannya termasuk persiapan di rumah. “Aku sudah bikin pembagian kerja. Aku belanja ke supermarket, mengisi kulkas. Jadi pembantu mudah mengatur makanan di rumah. Aku happy karena sekeliling mendukung aktivitas aku. Kami bersama menikmati semua. Mungkin juga semangat yang selalu menjadikan aku kuat serta doa-doa setiap waktu serta usaha sholat lengkap. Mungkin juga aku diberi kesempatan oleh Allah swt untuk hidup, karena masih banyak yang harus aku kerjakan untuk berbagi dengan sekeliling,” tuturnya.

Ia mencontohkan banyaknya orang yang terkena kasus sama seperti dirinya, ketika di Singaapore. 3 orang laki-laki semuanya meninggal. Proses treatmentnya sama dengan dirinya. Tetapi ia yakin bahwa semua penyakit pasti ada obatnya. “ Jangan dipikirkan sakitnya, solusi untuk sembuh yang harus dicari, melalui apapun caranya.”

Sampai saat ini Indra masih terlihat lincah, selalu tersenyum, bahagia bersama keluarga dengan banyak aktifitas. Indra bekerja di bidang asuransi, property, logam mulia dan juga mengajar di bidang financial, survival tentang cancer. Secara rutin ia juga ikut membantu mereka-mereka yang berjuang untuk sembuh. “Aku bimbing treatment dari awal sampai akhir. Yang penting jangan menyerah!. Harus menang dan terus berjuang sampai titik darah penghabisan,” tegasnya.

Membaca kisah dari Ibu  Indra Iswari Harmani, Dukungan Keluarga Membuatnya Tegar Melawan Kanker, kiranya dapat menjadi inspirasi buat kita semua untuk mencegah kanker dengan pola hidup sehat, dan bagi yang terkena kanker untuk tetap berjuang melawannya.

Sumber: Padangmedia.com

Artikel ini masuk dalam pembahasan:

- cerita penderita kanker nasofaring, - kisah penderita kanker nasofaring, - derita pasien kanker, - pengalaman sembuh dari kanker nasofaring, - Kisah nyata penderita kanker nasofaring, - kisah haru orang yang berjuang melawan sakit, - testimoni survivor kanker, - survivor kanker nasofaring, - cerita kanker nasofaring, - sembuh dari kanker nasofaring stadium 4

data-ad-format="link">
Inspirasi: Dukungan Keluarga Membuatnya Tegar Melawan Kanker Post in | Last updated: January 3rd, 2017 | 1,570 views
Saya seorang Blogger, Internet marketer, dan Independent distributor produk kesehatan

One thought on “Inspirasi: Dukungan Keluarga Membuatnya Tegar Melawan Kanker

  1. Bisakah saya menghubungi Ibu Indra…saya ingin mendapatkan info lebih detail krn saya menderita penyakit yg sama.Terima kasih.DADY 08122651061

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *