obat dari apotek
obat dari apotek

Kombinasi Obat Cefadroxil, Alaxan FR, dan Methylprednisolone

5/5 (2)

Di bulan ramadhan ini, bisa banyak sekali penyakit yang muncul jika kita tidak rajin menjaga kebersihan dan mengatur pola makan yang sehat. Saya tidak tahu mau memberi judul apa artikel ini. Saya beri saja judul Kombinasi Obat Cefadroxil, Alaxan FR, dan Methylprednisolone.

Saya merasa sakit sejak hari senin yang lalu, dan ini sudah hari ke enam. Berhubung karena saya peserta BPJS, maka saya ke puskesmas untuk periksa sekaligus berobat. Keluhan saya demam, sakit kepala, gatal kerongkongan, ada lendir melengket di kerongkongan, dan sakit seluruh badan seperti kecapaian habis bekerja berat. Oleh dokter, saya diresepkan Paracetamol, Vitamin C, obat alergi warna kuning (tidak ada namanya), dan obat warna coklat (Katanya obat batuk).

3 hari saya minum obatnya sampai habis, namun saya kembali lagi ke puskesmas karena belum sembuh. Saya didiagnosis lagi sama dokter yang sama.

Dokter: Sakit apa?

Saya: Masih sama yang kemarin, demam masih kadang muncul, sakit kepala, tenggorokan rasanya seperti habis minum air panas.

Dokter: Masih ini sakitnya yang waktu datang tanggal 28 belum sembuh juga? Kenapa belum sembuh juga

Saya: Masih (Dalam hati saya yang mesti bertanya, mengapa saya tidak sembuh, memang dikasih obat apa?)

Dokter: Ada batuk?

Saya: Tidak ada, hanya lendir yang menempel di tenggorokan.

Dokterpun menulis resep obat,

Saya: barangkali mau ditambah antibiotik.

Dokter: Apakah tenggorokannya merah?

Saya: Kurang tahu, saya tidak pernah periksa (Dalam hati saya berkata, saya ini ke dokter supaya diperiksa, masa saya harus periksa sendiri apakah tenggorokan saya merah)

Dokter: Suster, ambilkan masker mulut.

Setelah memasang masker di mulutnya, dokter menyuruh saya menjulurkan lidah dan menyenter tenggorokan saya.

Dokter: Tenggorokannya merah,

Setelah itu saya dikasih resep untuk diambil di bagian obat.

Sampai giliran saya, saya dikasih 3 macam obat.

Saya: Ada antibiotik?

Apoteker: Tidak ada, hanya paracetamol, vitamin c dan obat batuk.

obat dari puskesmas
obat dari puskesmas

Saya pulang dengan perasaan tak menentu. Dalam pikirku, mengapa masuh ada saja dokter yang tidak ramah pada pasien, hal pertama itu saja sudah membuat penyekit menjadi lebih berat.

Saya juga berpikir, mengapa saya tak ada perubahan masih dikasih obat yang itu-itu saja?

Dengan perasaan galau, saya singgah di apotek.

Pemilik apotek: Ada yang bisa dibantu Pak? Sudah ada yang layani?

Saya: Pak, ada obat kalau tenggorokan sakit? Begini, saya sudah 6 hari demam dan sakit tenggorokan, tapi di puskesmas masih dikasih paracetamol, obat batuk, dan vitamin C.

Pemilik Apotek: kasih Cefadroxil, Alaxan FR, dan Methylprednisolone. Sambil menyuruh karyawannya)

Setelah menerima penjelasan tentang kegunaan dan dosis masing-masing obat, maka saya pun menebus obat dan pulang.

Pada tulisan saya ini, saya tidak ingin membahas mengenai Obat Cefadroxil, Alaxan FR, dan Methylprednisolone, mungkin lain kali saja. Mudah-mudahan dengan Kombinasi Obat Cefadroxil, Alaxan FR, dan Methylprednisolone ini, penyakit saya bisa sembuh. Sebenarnya, seandainya ada kelebihan uang, saya mungkin lebih baik membeli transfer factor untuk penyakit seperti ini, dari pada harus minum obat dan antibiotik, tubuh ini bukan tempat pembuangan obat loh.

Oya, saya ingin memberikan masukan kepada para dokter:

  • Bersikap ramahlah pada pasien, karena keramahan Anda merupakan bagian besar dari obat penyembuh bagi pasien.
  • Jangan merasa jijik pada pasien, karena banyak juga dokter yang tidak mau memeriksa pasiennya, karena ada kesan jijik. Masa pasien ditanya, apakah tenggorokannya merah? Mengapa tidak memeriksa sendiri? Ada juga dokter yang pernah mengatakan, masa anak sendiri tidak tahu sakit apa? Ya, makanya dibawa ke dokter, kalau sudah tahu sakit apa, untuk apa dibawa lagi ke dokter untuk diperiksa

Untuk Anda yang lulus SMA dan ingin melanjutkan ke jurusan kedokteran, sebaiknya pertimbangkan hal berikut jika Anda ingin menjadi dokter: JANGAN MAU JADI DOKTER KALAU

  • Anda hanya GENGSI
  • Anda hanya mau mengejar uang
  • Anda jijik pada orang sakit
  • Anda malas, nanti Anda malas memeriksa pasien.
  • Anda punya watak suka marah, susah senyum, muka seperti tembok.

Sekali lagi jangan, masih banyak profesi yang lain yang bisa Anda pilih. Kasihan orang sakit, bisa tambah parah nantinya kalau menghadapi dokter seperti Anda.

Update: 3/7/2016

Terima kasih atas komentar Bapak Budi Setiawan tentang artikel ini di Facebook:

Komentar Kombinasi obat

Meskipun mungkin telah banyak yang menguraikan kemanjuran obat ini atau sebaliknya tak ada efek apapun, namun karena artikel ini ditulis sebelum meminum Kombinasi Obat Cefadroxil, Alaxan FR, dan Methylprednisolone. Sebenarnya saya juga kuatir, bagaimana kalau saya meminum obat ini dan tidak sembuh. Apa yang akan saya katakan pada dokter nantinya. Sebelum meminum obat ini, saya searching dulu di google tentang ketiga obat tersebut. Inilah hasil searching saya:

Cefadroxil

Dikutip dari situs Alodokter:

Cefadroxil adalah obat antibiotik dengan spektrum luas. Cefadroxil bisa dimanfaatkan untuk mengatasi beberapa jenis bakteri. Cefadroxil bisa digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih, kulit, pernapasan, atau tenggorokan. Obat ini bisa dikonsumsi oleh orang dewasa maupun anak-anak.

Cefadroxil termasuk jenis obat keras yang memerlukan resep dokter. Ada banyak merek obat-obatan yang mengandung cefadroxil. Selalu ingat untuk memeriksa kandungan dan membaca aturan pemakaian obat yang tertera pada kemasan.

Dosis Cefadroxil
Dosis dan lama cefadroxil diresepkan oleh dokter akan tergantung pada jenis infeksi yang sedang diobati, tingkat keparahannya dan kondisi kesehatan pasien. Umumnya, 1-2 gram cefadroxil dikonsumsi per hari untuk 5-10 hari. Dosis maksimum adalah 4 gram per 24 jam. Bagi anak-anak, dosis juga akan didasari kepada berat badan anak per kilogram dan akan ditentukan oleh dokter.

Efek Samping  dan Bahaya Cefadroxil

Beberapa efek samping yang mungkin terjadi antara lain:

  • Mengalami diare
  • Merasa sakit perut atau mengalami gangguan pencernaan
  • Peradangan pada lidah
  • Mual dan muntah

Alaxan FR

Dikutip dari situs Farmasiana:

Alaxan FR merupakan obat yang digunakan untuk meredakan demam, sakit kepala, sakit gigi, sakit pada telinga, nyeri haid, dan nyeri ringan lainnya. Alaxan FR mengandung paracetamol (obat yang digunakan sebagai analgetic dan antipiretic) dan ibuprofen (obat yang termasuk nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID).

Kemasan
Alaxan FR dipasarkan dengan kemasan Dos 10 x 10 kapsul

Kandungan
Tiap kemasan alaxan FR mengandung zat aktif (nama generik) sebagai berikut :
(Paracetamol 325 mg + ibuprofen 200 mg) / kapsul

Indikasi Alaxan FR

  • Alaxan FR digunakan untuk menurunkan demam pada segala usia, termasuk demam setelah imunisasi. Namun obat ini sebaiknya digunakan bila suhu tubuh sudah benar-benar tinggi dan membutuhkan terapi obat penurun panas. Rekomendasi WHO : penggunaan obat penurun panas dilakukan bila suhu tubuh lebih besar dari 38.5 °C (101.3 °F).
  • Untuk meredakan sakit kepala, sakit gigi, sakit pada telinga dan nyeri ringan lainnya.
  • Bisa juga untuk meredakan nyeri yang lebih berat seperti migrain, nyeri haid, nyeri akibat batu ginjal, nyeri pasca operasi, nyeri otot dan sendi termasuk nyeri akibat penyakit asam urat dan rematik

Kontra indikasi

  • Jangan diberikan pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitif terhadap paracetamol dan ibuprofen, aspirin atau obat-obat NSAID lain.
  • Pasien yang akan atau telah menjalani operasi by-pass jantung sebaiknya jangan menggunakan alaxan FR.
  • Obat ini juga dikontraindikasikan untuk pasien yang memiliki masalah ginjal, hati, pasien yang menderita asma, urtikaria, atau radang / tukak pada lambung atau usus.

Efek samping

  • Obat ini bisa menyebabkan kerusakan hati terutama jika penggunaanya melebihi dosis yang dianjurkan.
  • Efek samping ringan pada saluran pencernaan misalnya mual dan muntah. Pada penggunaan dosis yang lebih tinggi diketahui meningkatkan risiko terjadinya perdarahan lambung.
  • Efek samping yang lebih serius dapat berupa diare, hematemesis (muntah darah), hematuria (darah dalam urin), penglihatan kabur, ruam kulit, gatal dan bengkak.
  • Efek samping pada ginjal relatif jarang. Namun pada penggunaan jangka panjang, dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal termasuk gagal ginjal akut.
  • Seperti obat golongan NSAID lainnya, ibuprofen bisa meningkatkan risiko hipertensi, infark miokardial (serangan jantung), dan stroke terutama jika digunakan dalam jangka panjang dan dosis yang lebih tinggi. Oleh karena itu obat yang mengandung ibuprofen harus diberikan secara hati-hati pada pasien yang memiliki faktor risiko ini.
  • Sindrom Stevens-Johnson, dan nekrolisis epidermal toksik, yang dapat berakibat fatal, dapat terjadi selama pemakaian NSAID termasuk ibuprofen meskipun kejadian ini sangat jarang. FDA juga memperingatkan paracetamol bisa menyebabkan hal yang sama, dengan kejadian yang sangat jarang.
  • Reaksi hipersensitivitas akibat pemakaian obat ini sangat jarang, namun jika itu terjadi, pertolongan medis harus segera diberikan karena bisa menyebabkan syok anafilaksis yang berakibat fatal.

Dosis:

Dewasa : 3-4 x sehari 1 kapsul bersama makanan atau tepat setelah makan.

Methylprednisolone

Dikutip kembali dari Alodokter:

Methylprednisolone termasuk jenis obat kortikosteroid atau yang lebih dikenal dengan istilah steroid. Kinerja obat ini adalah menekan sistem kekebalan tubuh untuk mengurangi gejala peradangan seperti pembengkakan, nyeri, dan ruam. Obat ini dapat digunakan untuk menangani peradangan atau inflamasi dalam berbagai penyakit, misalnya penyakit Crohn, kolitis ulseratif, alergi, artritis reumatoid, asma, serangan multiple sclerosis, serta jenis-jenis kanker tertentu.

Di samping itu, methylprednisolone juga dapat diberikan kepada pengidap kelainan hormon. Contohnya untuk penggantian hormon bagi orang dengan tubuh yang tidak bisa memproduksi steroid secara memadai.

Methylprednisolone tersedia dalam berbagai merek. Obat ini harus digunakan dengan resep dokter.

Peringatan:

  • Bagi anak-anak, wanita hamil dan yang sedang menyusui, sesuaikan dosis dan pemakaian dengan anjuran dokter.
  • Jika menggunakan methylprednisolone, Anda perlu memberi tahu dokter atau perawat sebelum menjalani penanganan medis apapun.
  • Harap berhati-hati bagi pengidap hipertensi, penyakit jantung, gangguan ginjal, gangguan hati, diabetes atau glaukoma, osteoporosis, hipotiroidisme, epilepsi, infeksi, myastenia gravis dan infeksi seperti tuberkulosis, cacar air, campak, dan herpes zoster.
  • Harap waspada bagi yang pernah mengalami serangan jantung, gangguan psikis, tukak lambung, gangguan inflamasi usus, penggumpalan darah, baru saja menerima vaksin, serta mengalami kontak langsung dengan pengidap cacar air, campak, atau herpes zoster.
  • Peningkatan dan penurunan dosis perlu dilakukan secara berkala untuk menegah terjadinya efek samping dan gejala putus obat.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera hubungi dokter.

Dosis Methylprednisolone

Dosis methylprednisolone sangat berbeda-beda pada tiap pasien. Faktor-faktor yang menentukan dosis methylprednisolone ialah kondisi kesehatan yang diobati, tingkat keparahannya, dan respons tubuh pasien terhadap pengobatan ini. Berat badan terutama pada pasien anak-anak juga diperhitungkan dalam menentukan dosis. Takaran yang methylprednisolone umumnya berkisar antara 4-48 mg per hari. Dosis obat ini biasanya akan direvisi ulang oleh dokter setelah beberapa waktu sesuai dengan respons tubuh terhadap methylprednisolone.

Methylprednisolone sebaiknya dikonsumsi dengan makanan atau setelah makan. Usahakan untuk mengonsumsi obat ini pada waktu yang sama tiap hari agar efeknya dalam tubuh maksimal.

Peningkatan dan pengurangan dosis obat ini perlu dilakukan secara bertahap untuk mengurangi efek samping dan mencegah gejala putus obat.

Efek Samping dan Bahaya Methylprednisolone

  • Mual dan muntah
  • Nyeri ulu hati
  • Sakit perut
  • Gangguan pencernaan
  • Lemas dan lelah
  • Berkeringat melebihi biasanya
  • Uring-uringan
  • Kecemasan dan depresi
  • Sulit tidur
  • Menstruasi yang tidak teratur
  • Kenaikan berat badan

Setelah membaca penjelasan mengenai ketiga obat tersebut, saya menjadi was-was. Was-was karena sebagian besar obat tersebut harus dengan resep dokter, sebagian lagi karena saya waktu periksa tekanan darah di puskesmas hasilnya 140/80 yang biasanya kalau saya sehat 110/70 atau 120/70. Jangan-jangan saya sering oleng karena tekanan darah saya cukup tinggi? Sementara apoteker telah menganjurkan saya mengonsumsi obat tersebut masing-masing 3×1

Bagaimana keputusan saya?

Saya memutuskan untuk tetap meminum obat tersebut, dan setelah memperlihatkan obat tersebut pada istri saya, istri saya menyarankan agar saya mengonsumsi Cefadroxil 2×1 saja, karena dia pernah diresepkan juga oleh dokter obat tersebut.

Saya putuskan mengonsumsi Cefadroxil 2×1 selama 5 hari karena isi 1 strip 10 kapsul, sementara yang lain tergantung perkembangan kondisi sakit yang saya alami

Lalu bagaimana hasilnya? Apakah kombinasi Obat Cefadroxil, Alaxan FR, dan Methylprednisolone ini manjur? Mari kita lihat hasilnya.

Hari pertama 1/7/2016. Saya mengonsumsi obat tersebut masing-masing 1 kapsul. Sampai pagi saya tidak pernah lagi demam, tapi kepala saya masih pusing dan kalau di depan komputer seperti oleng, dan tenggorokan saya masih sakit.

Hari kedua 2/7/2016. Saya mengonsumsi Cefadroxil, dan Methylprednisolone saja, karena saya rasa saya sudah tidak pernah demam. Kepala saya sudah jarang pusing, tenggorokan masih seperti ada yang mengganjal.

Artikel ini masuk dalam pembahasan:

- methylprednisolone 4 mg untuk radang tenggorokan, - obat demam dari dokter, - obat puskesmas, - obat demam, - gambar obat dari puskesmas, - foto obat puskesmas, - obat dokter demam, - obat2 puskesmas, - gambar obat puskesmas, - gambar obat demam

data-ad-format="link">
Kombinasi Obat Cefadroxil, Alaxan FR, dan Methylprednisolone Post in | Last updated: August 14th, 2018 | 15,398 views
Saya seorang Blogger, Internet marketer, dan Independent distributor produk kesehatan

2 thoughts on “Kombinasi Obat Cefadroxil, Alaxan FR, dan Methylprednisolone

  1. Saya bukan dokter, saya juga tidak ingin membahas tentang (tidak) keramahan dokter. Tetapi penyakit tenggorokan itu penyebabnya macam-macam, bisa disebabkan virus, bakteri, jamur, alergi atau bahkan merok*k. Jika ada bakteri, maka Leucocyte Darah akan meningkat, bisa tes di lab klinik. Kalau penyebabnya virus tidak bisa dikasih Cefradoxil atau antibiotik apapun juga, bisa diberi obat untuk menghilangkan/mengurangi gejalanya, tetapi virusnya akan hilang, kalau tubuh kita kuat, makan telor rebus 3 butir perhari. Jamur dan alergi, bisa disembuhkan dengan kumur air garam, usahakan kumurnya sampai tenggorokan dengan mendongakkan kepala, murah bukan dan gak perlu ke dokter. Dokter mungkin memberikan obat yang tepat, mungkin juga tidak, toh saya tidak melihat kondisi anda dan saya hanya mendengar sepihak dari anda. Semoga sekarang sudah sembuh.

Comments are closed.