Infosehatkeluarga.com | Penyakit Epilepsi, atau yang sering disebut sebagai ayan, adalah salah satu gangguan neurologis yang paling umum di dunia. Kondisi ini ditandai dengan serangan kejang yang terjadi berulang kali akibat aktivitas listrik yang tidak normal di otak. Kejang tersebut dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan penderitanya, mulai dari kesehatan fisik, mental, hingga kehidupan sosial.
Mengenal penyakit epilepsi lebih dalam sangat penting bagi siapa saja, baik mereka yang mengalaminya, keluarga penderita, maupun masyarakat umum. Dengan memahami gejala, penyebab, serta cara mengatasi epilepsi, kita dapat memberikan dukungan yang lebih baik bagi penderita dan membantu mereka menjalani kehidupan yang lebih berkualitas. Mari kita telusuri lebih jauh mengenai penyakit epilepsi dan bagaimana cara terbaik untuk menghadapinya.
Pengertian Penyakit Epilepsi
Penyakit epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat di mana aktivitas otak menjadi tidak normal, sehingga menyebabkan kejang atau periode perilaku dan sensasi yang tidak biasa, dan kadang-kadang kehilangan kesadaran. Epilepsi dapat mempengaruhi siapa saja terlepas dari usia, jenis kelamin, atau ras. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), sekitar 50 juta orang di seluruh dunia menderita epilepsi, menjadikannya salah satu gangguan neurologis paling umum secara global.
Penyebab Penyakit epilepsi / ayan.
Soal penyebab penyakit epilepsi memang belum diketahui secara jelas. Penyakit epilepsi / ayan bisa terjadi karena faktor genetika namun bukanlah penyakit keturunan.
Selain itu, kerusakan otak ketika proses kelahiran, stroke, luka kepala, tumor otak dan pengaruh alkohol merupakan penyebab penyakit epilepsi.
Otak memiliki jutaan sel syaraf yang disebut sebagai neuron yang berfungsi sebagai koordinator di dalam tubuh agar kita bisa beraktivitas yang mencakup melihat, berpikir, bergerak dan bahkan perasaan kita.
Namun, pada penderita penyakit epilepsi, karena beberapa penyebab epilepsi yang telah disebutkan tadi syaraf-syaraf tersebut kadang tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Jadi pada intinya, meskipun sebagian kasus epilepsi tidak diketahui penyebabnya. Pada sebagian lainnya, epilepsi dapat berkaitan dengan berbagai faktor :
- Pengaruh genetik. Beberapa jenis epilepsi, yang dikategorikan sebagai kejang, diturunkan di dalam keluarga, sehingga mungkin sekali ada pengaruh genetik. Pada sebagian besar orang, faktor genetik hanya merupakan salah satu bagian dari penyebab terjadinya epilepsi, yang membuat seseorang lebih rentan terhadap faktor lingkungan yang memicu terjadinya kejang.
- Cedera Kepala: Trauma akibat kecelakaan dapat merusak jaringan otak.
- Gangguan medis lain, seperti stroke atau serangan jantung, yang menyebabkan kerusakan pada otak
- Demensia merupakan penyebab tersering epilepsi pada orang tua.
- Penyakit, seperti meningitis, AIDS, dan ensefalitis virus
- Cedera sebelum lahir. Sebelum dilahirkan, bayi rentan untuk mengalami kerusakan otak, yang dapat disebabkan oleh infeksi pada ibu, nutrisi yang buruk, atau kekurangan oksigen. Hal ini dapat menyebabkan palsy serebral pada anak. Sekitar 20% kejang pada anak-anak berhubungan dengan palsy serebral.
- Gangguan perkembangan. Epilepsi terkadang dapat berhubungan dengan gangguan perkembangan, seperti autisme dan sindroma Down.
- Infeksi Otak: Penyakit seperti meningitis atau ensefalitis dapat memicu epilepsi.
- Stroke atau Tumor Otak: Kondisi ini dapat mengganggu fungsi otak dan menyebabkan kejang.
Faktor-Faktor pencetus Epilepsi
Faktor-faktor pencetus penyakit epilepsi dapat berupa :
- kurang tidur
- stress emosional
- infeksi
- obat-obat tertentu
- alcohol
- perubahan hormonal
- terlalu lelah
- fotosensitif
Gejala Penyakit Epilepsi
Gejala atau Tanda-Tanda Penyakit Epilepsi pada umumnya:
- Jadi pusing.
- Pandangan mata berkunang-kunang.
- Alat pendengaran kurang sempurna.
- Keluar keringat terlalu berlebih serta mulut keluar busa.
- Pasien jatuh pingsan diiringi dengan jeritan.
- Seluruh urat-urat mengejang.
- Lengan serta tungkai menjulur kaku.
- Tangan menggenggam dengan jamantnya.
- Seringkali lidah luka tergigit dikarenakan rahang terkatup rapat.
- Si pasien sukar bernafas serta muka merah atau kebiru-biruan .
Perbedaan gejala yang terjadi tergantung jenis kejang-kejang. Pada banyak kasus, orang dengan epilepsi akan cenderung memiliki jenis kejang-kejang yang sama setiap waktu, jadi gejala yang terjadi akan sama dari kejadian ke kejadian.
Dokter mengklasifikasikan kejang-kejang secara parsial atau general, berdasarkan bagaimana aktivitas otak yang tidak normal dimulai. Pada beberapa kasus, kejang-kejang dapat dimulai secara parsial dan kemudian menjadi general.
Kejang-kejang parsial (sebagian)
Ketika kejang-kejang muncul sebagai hasil dari aktifitas otak yang tidak normal pada satu bagian otak tersebut, ilmuan menyebutnya kejang-kejang parsial atau sebagian. Kejang-kejang jenis ini terdiri dari dua kategori.
- Simple partial seizures (kejang-kejang parsial sederhana). Kejang-kejang ini tidak menghasilkan kehilangan kesadaran. Kejang-kejang ini mungkin akan mengubah emosi atau berubahnya cara memandang, mencium, merasakan, mengecap, atau mendengar. Kejang-kejang ini bisa juga menghasilkan hentakan bagian tubuh secara tidak sengaja, seperti tangan atau kaki, dan gejala sensorik secara spontan seperti perasaan geli, vertigo dan berkedip terhadap cahaya.
- Complex partial seizures (kejang-kejang parsial kompleks). Kejang-kejang ini menghasilkan perubahan kesadaran, itu karena anda kehilangan kewaspadaan selama beberapa waktu.
Kejang-kejang general
Kejang-kejang yang melibatkan seluruh bagian otak disebut kejang-kejang general. Empat tipe dari kejang-kejang general adalah:
- Absence seizures (juga disebut petit mal). Kejang-kejang ini memiliki dikarakteristikan oleh gerakan tubuh yang halus dan mencolok, dan dapat menyebabkan hilangnya kesadaran secara singkat.
- Myoclonic seizures. Kejang-kejang ini biasanya menyebabkan hentakan atau kedutan secara tiba-tiba pada tangan dan kaki.
- Atonic seizures. Juga dikenal dengan drop attack, kejang-kejang ini menyebabkan hilangnya keselarasan dengan otot-otot dan dengan tiba-tiba collapse dan terjatuh.
- Tonic-clonic seizures (juga disebut grand mal). Kejang-kejang yang memiliki intensitas yang paling sering terjadi. Memiliki karakteristik dengan hilangnya kesadaran, kaku dan gemetar, dan hilangnya kontrol terhadap kandung kemih.
Diagnosa
Diagnosis epilepsi dilakukan melalui serangkaian tes medis, termasuk EEG (elektroensefalografi) untuk memonitor aktivitas listrik di otak, serta MRI atau CT scan untuk melihat struktur otak.
Penanganan Penyakit Epilepsi.

Penyandang epilepsi harus segera mengambil pengobatan yang tepat dan teratur. Pasalnya, bila dibiarkan kualitas hidup penyandang epilepsi bisa berkurang.
Apalagi ditambah stigma negatif yang masih melekat di masyarakat seperti penyakit kutukan, di-‘guna-guna’, kerasukan setan, gangguan jiwa dan penyakit yang menular melalui air liur, yang semakin memperburuk kondisi penyandang epilepsi.
Bahkan tak jarang, karena stigma tersebut penyandang dikucilkan masyarakat dan potensinya tak dianggap.
Pandangan tersebut keliru. Epilepsi bukan penyakit menular dan tidak dapat berpindah melalui air liur, sentuhan, atau kontak sehari-hari. Pada sebagian orang, faktor genetik dapat berperan dalam terjadinya epilepsi, tetapi kondisi ini tidak dapat disederhanakan sebagai penyakit yang selalu diwariskan dari orang tua kepada anak. Dengan diagnosis dan pengobatan yang tepat, banyak penyandang epilepsi dapat mengendalikan kejang dan tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik.
Pertolongan Pertama Saat Seseorang Mengalami Kejang Epilepsi
Saat seseorang mengalami kejang, tetap tenang dan usahakan agar ia terhindar dari cedera. Singkirkan benda keras atau tajam di sekitarnya dan, bila memungkinkan, letakkan sesuatu yang lembut di bawah kepalanya.
Jika orang tersebut berada dalam posisi berbaring, miringkan tubuhnya secara perlahan ke satu sisi agar jalan napas tetap terbuka. Longgarkan pakaian yang ketat di sekitar leher dan catat berapa lama kejang berlangsung.
Jangan menahan gerakan tubuhnya dan jangan memasukkan benda, makanan, minuman, maupun obat ke dalam mulut selama kejang berlangsung. Tetap bersama orang tersebut sampai kejang berhenti dan ia kembali sadar.
Segera cari pertolongan medis darurat jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, terjadi kejang berikutnya sebelum orang tersebut pulih, mengalami kesulitan bernapas atau sadar kembali, mengalami cedera, kejang terjadi di dalam air, atau merupakan kejang pertama yang diketahui.
Pengobatan Penyakit Epilepsi.
Jika Penyakit epilepsi tersebut penyebabnya adalah tumor, infeksi atau kadar gula maupun natrium yang abnormal, maka keadaan tersebut harus diobati terlebih dahulu. Jika keadaan tersebut sudah teratasi, maka kejangnya sendiri tidak memerlukan pengobatan.
Jika penyebabnya tidak dapat disembuhkan atau dikendalikan secara total, maka diperlukan obat anti-kejang untuk mencegah terjadinya kejang lanjutan.
Pengobatan epilepsi disesuaikan dengan jenis kejang, penyebab, usia, kondisi kesehatan, serta respons masing-masing pasien terhadap terapi. Obat antikejang merupakan salah satu terapi utama dan harus digunakan sesuai resep serta pemantauan dokter. Pada sebagian pasien, pengobatan dapat mengendalikan kejang dengan baik, sedangkan pasien yang kejangnya sulit dikendalikan mungkin memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter spesialis untuk menentukan pilihan terapi lainnya. Status epileptikus, yaitu kejang berkepanjangan atau berulang tanpa pemulihan yang memadai, merupakan keadaan darurat medis dan memerlukan penanganan segera di fasilitas kesehatan.
Efek Samping dan Pemantauan Obat Antikejang
Obat antikejang dapat menyebabkan efek samping, tetapi jenis dan tingkat keparahannya berbeda-beda tergantung obat, dosis, usia, kondisi kesehatan, dan respons masing-masing pasien. Beberapa efek samping yang dapat terjadi antara lain mengantuk, pusing, gangguan koordinasi, perubahan suasana hati, atau keluhan lain yang berbeda pada setiap obat. Karena itu, pasien sebaiknya melaporkan efek samping kepada dokter dan tidak menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa petunjuk medis.
Pemantauan selama terapi juga disesuaikan dengan jenis obat dan kondisi pasien. Pemeriksaan kadar obat dalam darah atau pemeriksaan laboratorium tertentu tidak selalu diperlukan secara rutin untuk semua orang, tetapi dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, misalnya kejang yang belum terkendali, munculnya efek samping, dugaan masalah kepatuhan pengobatan, kehamilan, atau gangguan fungsi ginjal.
Pada sebagian pasien dengan epilepsi yang kejangnya tetap sulit dikendalikan meskipun telah mendapat terapi obat yang sesuai, dokter dapat mempertimbangkan evaluasi untuk tindakan operasi. Jenis operasi bergantung pada lokasi sumber kejang, penyebab epilepsi, serta hasil pemeriksaan menyeluruh oleh tim spesialis. Tindakan dapat berupa pengangkatan atau pemutusan jaringan tertentu yang berperan dalam timbulnya kejang, tetapi tidak semua pasien merupakan kandidat operasi. Keputusan tersebut harus dilakukan setelah evaluasi di pusat layanan epilepsi atau neurologi yang berpengalaman.
Penutup
Penyakit epilepsi adalah gangguan neurologis yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan epilepsi, pengelolaan yang tepat dapat membantu penderita hidup dengan kualitas hidup yang lebih baik. Dengan memahami gejala, penyebab, dan metode pengobatan epilepsi, kita dapat memberikan dukungan yang lebih baik bagi penderita serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kondisi ini.
Demikianlah artikel mengenai penyakit epilepsi, semoga bermanfaat.
