Pemberian makanan pada bayi
Pemberian makanan pada bayi (Ilustrasi/pixabay)

Pola Pemberian Makanan pada Bayi berdasarkan Usianya

Kebutuhan nutrisi manusia dalam setiap fase pertumbuhan dan perkembangannya tidaklah sama. Kebutuhan nutrisi pada bayi tentu berbeda dengan kebutuhan nutrisi pada anak-anak, dewasa, bahkan orang tua. Dari perbedaan kebutuhan nutrisi tersebut, maka pola makan pun akan berbeda dalam setiap fase kehidupan manusia. Hal yang paling penting untuk dipahami khususnya adalah pola makan pada bayi. Kecukupan nutrisi pada bayi menjadi penentu perkembangan manusia pada fase berikutnya. Gangguan pertumbuhan pada bayi akan bisa merusak masa keemasan usia pada manusia, dimana masa-masa perkembangan otak dan perkembangan organ-organ lainnya terjadi secara optimal pada fase ini. Dari sini, maka mengetahui bagaimana pola pemberian makanan pada bayi menjadi salah satu faktor yang penting untuk mengawal pertumbuhan dan perkembangannya untuk menginjak fase pertumbuhan berikutnya, yaitu fase anak-anak.

Pemberian makan pada bayi tergantung sepenuhnya pada orang tua/dewasa. Kesalahan pemberian makanan pada bayi akan berdampak buruk pada perkembangan organnya, dan lebih jauh bisa berefek buruk terhadap kesehatan ke depannya. Hal ini bisa terjadi karena kemampuan fisiologi bayi tidak sama dengan kemampuan fisiologi pada orang dewasa, sehingga diperlukan pemberian makanan secara bertahap pada bayi, baik dari bentuk, jenis makanan, frekuensi, dan jumlahnya.

[Baca juga: 9 Makanan yang sebaiknya tidak diberikan pada bayi]

Pada awal kehidupannya, ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan terbaik bagi bayi karena komposisi paling sesuai dengan kondisi fisiologi bayi. Berdasarkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak, pola pemberian makanan pada bayi menurut umurnya adalah:

Pola Pemberian Makanan pada Bayi berdasarkan Umurnya

Pemberian makanan pada bayi
Pemberian makanan pada bayi (Ilustrasi/pixabay)

1. Usia bayi 0-6 bulan.

Selama ibu hamil, bayi menerima nutrisi dari ibu melalui plasenta. Setelah lahir, nutrisi bayi hanya diperoleh dari ASI. Pemberian ASI harus diberikan sesegera mungkin setelah bayi lahir dalam waktu satu jam pertama. Sampai bayi berusia 6 bulan, bayi cukup mendapatkan nutrisi dari ASI tanpa ditambah makanan atau minuman selainnya karena ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangannya hingga usia 6 bulan. Istilah ini kemudian lebih dikenal dengan istilah ASI eksklusif.

ASI pertama yang diberikan kepada bayi disebut kolostrum. Kolostrum bertekstur sedikit kental dan berwarna kekuningan, mengandung lemak, protein, dan sistem kekebalan. Sistem kekebalan bayi diperoleh dari ibunya dan tetap ada hingga bayi berusia beberapa bulan. Komposisi kolostrum akan berubah beberapa hari setelah persalinan menjadi normal ASI yang disebut mature milk. Pemberian ASI dilakukan sesering mungkin tanpa batas waktu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. Rata-rata dalam sehari 5-7 kali pemberian dengan total jumlah ASI 720-960 mL.

Kurang berhasilnya proses menyusui sangat jarang terjadi karena adanya gangguan hormonal, namun lebih sering terjadi karena teknik menyusui yang kurang tepat, misalnya perlekatan yang kurang benar, durasi menyusui yang kurang, atau karena kondisi psikologis ibu pada saat menyusui, dan dukungan keluarga ataupun tenaga kesehatan yang kurang.

Penelitian banyak membuktikan bahwa bayi yang diberi ASI lebih jarang terkena gangguan pencernaan, panas, batuk, dan pilek bila dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan ASI. Sebaliknya, jika pada usia ini bayi mendapatkan makanan tambahan selain ASI, maka akan meningkatkan risiko penyakit diare serta infeksi lainnya karena belum siapnya pencernaan bayi untuk menerima makanan selain ASI. Pemberian makanan selain ASI pada usia di bawah 6 bulan juga berdampak jumlah ASI yang diterima bayi berkurang. Jika jumlah ASI yang diterima bayi berkurang, maka pertumbuhan bayi juga tidak akan optimal.

Pemberian makanan tambahan selain ASI paling tepat adalah saat bayi berumur kurang lebih 6 bulan ke atas karena pada saat itu kondisi pencernaan bayi jauh lebih siap untuk menerima makanan selain ASI bila dibandingkan dengan usia sebelumnya. Pemberian makanan tambahan yang terlambat juga akan memberikan efek yang buruk pada bayi, karena bayi akan mengalami kekurangan nutrisi pada usianya sehingga menyebabkan pertumbuhan dan perkembangannya terganggu.

2. Usia bayi 6-9 bulan

Pada usia ini, pemberian makanan tambahan atau lebih dikenal dengan makanan pendamping ASI (MP-ASI) sudah mulai dilakukan. Meski makanan pendamping ini sudah mulai diberikan, namun tidak berarti pemberian ASI diberhentikan. Selama produksi ASI pada ibu masih ada, maka sebaiknya ASI tetap diberikan pada bayi setidaknya hingga bayi berumur 2 tahun. Pada usia ini, ASI bukan lagi makanan utama bayi sehingga makanan selain ASI harus mulai dikenalkan pada usia ini. MP-ASI diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi yang sudah semakin meningkat sesuai dengan bertambahnya umur.

Setelah bayi berusia 6 bulan, bayi biasanya memiliki tanda-tanda kesiapan untuk menerima makanan pendamping. Tanda-tandanya adalah:

a. Memiliki kontrol terhadap kepala yang bisa dilihat dari kemampuan bayi dalam mempertahankan posisi kepala tegak
b. Memiliki kemampuan untuk duduk dengan nyaman
c. Membuat gerakan mengunyah
d. Adanya peningkatan berat badan
e. Mulai tampak ketertarikan terhadap makanan

Makanan pendamping bayi untuk usia 6-9 bulan adalah berupa bubur susu hingga nasi tim lumat. Pemberian makanan pun dilakukan secara bertahap, mulai dari makanan yang bertekstur lembut dan encer kemudian bertahap ke bentuk yang lebih kental. Adapun frekuensi pemberiannya sebanyak 2 kali sehari dengan jumlah yang disesuaikan dengan umur.

Selain pemberian makanan tersebut, bayi bisa diberi selingan makanan berupa biskuit, pisang (dan buah lain yang bertekstur lembut), bubur kacang hijau atau jajanan yang sifatnya lembut dan mudah dicerna. Makanan lain yang bisa dikenalkan pada bayi adalah hati ayam atau kacang-kacangan, beras merah, ubi atau sayuran dengan kadar serat yang masih rendah misalnya labu siam, tomat (pilih yang masak agar tidak terlalu masam), kacang panjang, buncis, dan wortel.

Penting untuk diingat, hindari memberikan garam, gula, MSG (Monosodium glutamate) dan bahan tambahan/penyedap lainnya pada makanan pendamping bayi karena bisa menjadikan bayi cenderung menyukai makanan yang asin atau manis. Efeknya akan menjadikannya suka memilih makanan. Makanan pendamping yang terlalu manis jika diberikan secara terus menerus juga bisa menyebabkan obesitas/kegemukan pada bayi, dan lebih jauh bisa meningkatkan risiko penyakit diabetes mellitus. Selain itu, makanan yang terlalu manis bisa menyebabkan karies pada gigi dan akan merusak kesehatan gigi pada bayi. Makanan yang terlalu banyak garam pun tidak baik bagi tubuh karena bisa meningkatkan jumlah sodium dalam tubuh. Selain itu, jumlah garam yang terlalu tinggi pada tubuh akan memperberat kerja ginjal, padahal fungsi ginjal pada bayi belum sesempurna fungsi ginjal pada orang dewasa. Kadar sodium yang tinggi dalam darah juga bisa mengurangi kadar kalsium pada tubuh, mengancam massa tulang dan kekuatannya, serta masih banyak lagi efek buruk lainnya.

[Baca juga: 5 Dampak garam pada bayi]

3. Usia bayi 10-12 bulan

ASI tetap diberikan dengan tambahan makanan padat berupa bubur nasi tim sampai nasi tim. Frekuensi pemberian makanan pendamping sebanyak 3 kali sehari atau menyesuaikan dengan kemampuan bayi dalam menerima makanan. Selain makanan tersebut, bisa ditambahkan makanan seperti buah-buahan yang tidak terlalu masam, daging, ayam, ikan, makanan bersantan, sari buah tanpa gula, dan kacang tanah. Sementara bayi di atas 12 bulan, makanannya sudah seperti orang dewasa dengan catatan bayi tidak alergi terhadap makanan tertentu.
Demikian penjelasan tentang pemberian makanan pada bayi berdasarkan kebutuhannya. Semoga informasi ini bisa bermanfaat dan bisa membantu meningkatkan pengetahuan seluruh pembaca infosehatkeluarga.com. Salam sehat!


Sumber :

  • Almatsier, Sunita. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Sulistyoningsih, Hariyani. 2013. Gizi untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta : Graha Ilmu.
  • http://duniafitnes.com/health/suka-makanan-asin-lihat-efeknya-bagi-tubuh-anda.html.
  • http://mitrakesehatan.com/diet-rendah-serat-baik-bagi-penderita-tipes.html.

Artikel ini masuk dalam pembahasan:

- pemberian makanan pada bayi dan balita, - pola pemberian makan pada bayi, - pola makan bayi dan balita, - pemberian nutrisi sesuai usia pada anak, - pemberian makanan tambahan pada bayi, - pola pemberian makan bayi dan anak, - pemberian makanan untuk balita berdasarkan waktu, - obesitas pada bayi usia 0-6 bulan, - Pola makanan bayi dan blita, - jadwal pemberian gizi pada balita

data-ad-format="link">
Pola Pemberian Makanan pada Bayi berdasarkan Usianya Post in | Last updated: January 6th, 2017 | 2,147 views
Kontributor Infosehatkeluarga.com - Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *