Sering Berdebar-debar, Waspadai Stroke

BISNIS MELIA SEHAT SEJAHTERA – Anda sering berdebar-debar? Rasanya seperti jantung Anda berdetak kencang tidak beraturan? Jangan abaikan, mungkin saja saat ini jantung Anda sedang bermasalah. Fibrilasi atrium mungkin adalah penyebabnya. Fibrilasi atrium merupakan kelainan irama jantung yang paling sering ditemukan dalam praktek klinik sehari-hari. Sayangnya, fibrilasi atrium masih belum banyak dikenal masyarakat luas. Padahal, individu yang menderita fibrilasi atrium memiliki risiko terkena stroke lima kali lipat lebih tinggi dibandingkan orang tanpa fibrilasi atrium.

Fibrilasi atrium merupakan suatu gangguan irama jantung yang seringkali ditandai dengan peningkatan detak jantung yang tidak beraturan. Pada pasien dengan fibrilasi atrium, terjadi gangguan kontrol irama jantung yang normal. Hal ini menyebabkan timbulnya sinyal listrik yang cepat dan ireguler dalam otot dan sistem konduksi jantung, sehingga mengakibatkan serambi jantung (atrium) hanya sekadar bergetar dan gagal untuk memompa darah ke bilik jantung (ventrikel) dalam pola yang seharusnya. Angka kejadian fibrilasi atrium di dunia diperkirakan akan terus meningkat. Di Amerika, pada tahun 2010 terdapat 6,7 juta penderita fibrilasi atrium dan diproyeksikan meningkat menjadi 16 juta orang pada tahun 2050. Fibrilasi atrium dikatakan merupakan suatu penyakit “aging” sehingga kejadiannya semakin tinggi pada kelompok usia lanjut. Di Amerika, pada tahun 2005, ditemukan bahwa 6% dari total populasi kelompok berusia >65 tahun adalah penderita fibrilasi atrium. Oleh karena itu, masalah fibrilasi atrium ini seringkali disebut-sebut sebagai masalah epidemi global.

Besarnya persoalan fibrilasi atrium di masyarakat kerap kali sering terabaikan. Hal ini disebabkan karena sebagian besar penderita kebanyakan hanya datang dengan keluhan berupa rasa berdebar-debar, detak jantung yang tidak teratur, nyeri atau rasa tidak nyaman di dada, kesulitan bernapas, dan pusing. Bahkan banyak juga penderita yang tidak menunjukkan gejala-gejala yang jelas (silent). Padahal kondisi fibrilasi atrium sangat berkaitan dengan peningkatan kejadian stroke dan tromboemboli, gagal jantung serta rawat inap, bahkan kematian.

Stroke saat ini tengah merupakan penyebab kematian tertinggi untuk kategori penyakit tidak menular dimana diperkirakan satu orang di dunia meninggal tiap enam detik karena stroke atau hampir enam juta orang pertahunnya. Stroke sendiri, diartikan sebagai suatu kondisi gangguan fungsi otak yang timbul mendadak akibat penurunan suplai darah ke otak yang berlangsung lebih dari 24 jam. Stroke pada fibrilasi atrium umumnya adalah suatu stroke non-hemoragik (jenis stroke yang bukan disebabkan perdarahan pada bagian otak, melainkan sumbatan pada pembuluh darah otak akibat proses dalam otak sendiri atau dapat berasal dari lepasan trombus di luar otak).

Suatu studi terhadap lebih dari 39.000 pasien stroke di Denmark menemukan bahwa 16% diantaranya merupakan penderita fibrilasi atrium, dan 92% dari penderita fibrilasi atrium tersebut mengalami stroke non-hemoragik. Hal ini disebabkan karena pada fibrilasi atrium terjadi turbulensi dan diastasis aliran darah di atrium yang memudahkan terbentuknya trombus (gumpalan darah) di daerah apendiks atrium kiri. Fibrilasi atrium terjadi saat atrium berdenyut tidak teratur. Kondisi ini membuat aliran darah tidak mengalir dengan baik sehingga darah akan terakumulasi dan tergenang di dalam atrium dimana pada kondisi ini sangat rentan terjadi penggumpalan darah di dalam atrium yang apabila pecah dan bergerak menuju ke pembuluh darah otak akan berpotensi menyebabkan serangan stroke. Serangan stroke yang terkait dengan fibrilasi atrium ini umumnya lebih berat, dampaknya lebih buruk dan perawatannya lebih lama dibandingkan dengan pasien stroke tanpa fibrilasi atrium. Bahkan, penderita stroke dengan fibrilasi atrium memiliki risiko kematian pada serangan pertama stroke.

Agar dapat memperhitungkan risiko stroke pada penderita fibrilasi atrium, maka diperlukan suatu cara stratifikasi yang melibatkan berbagai faktor risiko yang berkontribusi pada terjadinya stroke. Saat ini terdapat sistem skor yang mudah digunakan untuk stratifikasi risiko stroke pada penderita fibrilasi atrium, yaitu skor CHADS2 dan CHA2DS2VASc. Komponen skor CHADS2 meliputi Congestive heart failure, Hypertension, Age over 74 y.o, Diabetes mellitus, previous Stroke, yang masing-masing mempunyai skor 1, kecuali previous Stroke yang mempunyai skor 2. Sedangkan CHA2DS2VASc memiliki komponen yang sama dengan CHADS2 namun dengan penambahan Vascular disease, Age between 65-74 y.o, Sex category (female) yang masing-masing mempunyai skor 1, kecuali Age over 74 y.o dan previous Stroke yang memiliki skor 2. Semakin tinggi nilai skor CHADS2 atau CHA2DS2VASc, maka risiko terjadinya stroke semakin besar. Berdasarkan hal ini, maka penderita fibrilasi atrium dengan total skor ≥ 1 dianjurkan untuk diberikan terapi antikoagulan atau antitrombotik.

Selain memperhitungkan risiko tromboemboli (lepasan gumpalan darah dalam sirkulasi bebas), pada penderita fibrilasi atrium juga perlu diperhitungkan risiko perdarahan yang mungkin timbul akibat pemberian obat-obatan antikoagulan dan antitrombotik. Skor HAS BLED saat ini merupakan sistem skor yang paling sering digunakan. Perlu diperhatikan bahwa komponen pada skor HAS BLED (Hypertension, Abnormal renal/liver function, Stroke, Bleeding history or predisposition, Labile INR, Elderly over 65 y.o, Drugs/alcohol concomitantly) yang masing-masing diberi skor 1 banyak memiliki kesamaan dengan skor CHADS2. Artinya, pasien yang berisiko tinggi mengalami stroke, pada saat yang bersamaan memiliki risiko perdarahan yang relatif tinggi pula. Pasien fibrilasi atrium dengan skor HAS BLED >3 memerlukan pemantauan yang lebih memadai.

Diagnosis fibrilasi atrium dapat ditegakkan berdasarkan hasil rekam jantung (elektrokardiogram) yang dapat dilakukan di fasilitas kesehatan primer yang memiliki alat elektrokardiografi (EKG). Skrining rutin dengan alat EKG dan pemeriksaan denyut nadi secara teratur, sangat dianjurkan untuk dilakukan terutama pada individu usia lanjut. Sangat penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor risiko terkait kondisi fibrilasi atrium seperti aktivitas fisik, emosi, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, riwayat penyakit sebelumnya (hipertensi, penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke, kencing manis, hipertiroid/penyakit gondok, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit ginjal kronis, penyakit katub jantung, sleep apneu), serta riwayat keluarga dengan fibrilasi atrium.

Tujuan utama dari tatalaksana fibrilasi atrium adalah untuk menurunkan risiko-risiko jangka panjang yang timbul akibat kondisi tersebut, terutama stroke. Pencegahan stroke pada pasien fibrilasi atrium dapat dilakukan melalui terapi obat-obatan untuk mengurangi resiko terjadinya penggumpalan darah, mengontrol ketat laju dan irama jantung yang kacau, bahkan pada kasus yang berat mungkin perlu untuk dilakukan tindakan ablasi. Selain itu, juga perlu penanganan yang adekuat terhadap penyakit penyerta yang terkait disertai modifikasi gaya hidup yang tidak sehat.

Bila saat ini Anda menemukan diri Anda atau orang terdekat Anda sering merasa berdebar-debar dengan/tanpa disertai faktor risiko seperti yang telah disebutkan diatas, maka segeralah memeriksakan diri Anda/orang terdekat Anda pada fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Semakin dini Anda memeriksakan diri, semakin baik kualitas hidup yang akan Anda capai. Segala upaya pencegahan dapat dilakukan mulai sekarang, dimulai dari berhenti merokok, memeriksakan tekanan darah secara berkala, mengubah gaya hidup yang tidak sehat, rutin mengontrol gula darah, serta mulai berolahraga. Risiko selalu ada agar kita tetap waspada, namun bagaimana langkah menyikapinya kita yang menentukan.
Sering Berdebar-debar, Waspadai Stroke 1
Oleh: dr. Liemena Harold Adrian (Ambon Ekspres)

Artikel ini masuk dalam pembahasan:

- Cara hitung cha2ds2, - skor has bled, - penggunaan skor has bled, - penganan sederhana tromboemboli, - menghitung skor chads2, - has bled score adalah, - harold adrian liemena, - CHADS2 adalah, - cha2ds2-vasc score adalah, - skor HAS-BLED adalah

data-ad-format="link">
Sering Berdebar-debar, Waspadai Stroke Post in | Last updated: December 12th, 2016 | 198 views
Saya seorang Blogger, Internet marketer, dan Independent distributor produk kesehatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *