6 Mitos seputar Kolesterol

Mengenal Kolesterol dan Jenisnya

Jika kita mendengar istilah kolesterol, kebanyakan kita berpikir tentang lemak jahat yang seringkali membawa manusia pada kematian. Padahal sebenarnya tubuh pada dasarnya memerlukan kolesterol untuk proses metabolisme tertentu. Kolesterol diperlukan untuk membentuk hormon, vitamin D, dan lemak empedu yang membantu dalam penghancuran lemak. Kolesterol dibawa dalam darah dalam bentuk LDL (Low Density Lipoprotein) dan HDL (High Density Lipoprotein). Terlalu banyak LDL dalam darah akan menyebabkan pembentukan plak (plaque) dalam pembuluh darah arteri – yang mana akhirnya bisa menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk mensirkulasi darah ke seluruh tubuh. Plak inilah yang nantinya akan bisa menjadikan darah menumpuk di bagian arteri tertentu dan menghalangi darah yang akan menuju ke otak (merupakan penyebab stroke) atau menghalangi darah yang akan menuju ke jantung (penyebab serangan jantung). Karena alasan itulah pada akhirnya LDL disebut sebagai kolesterol jahat (bad cholesterol). Sementara HDL membawa kolesterol dari seluruh tubuh kembali ke liver, yang kemudian menghilangkan LDL dari tubuh. Kolesterol ini biasa disebut kolesterol baik (good cholesterol). Jenis kolesterol yang ketiga adalah VLDL (very low density lipoprotein). Lipoprotein ini merupakan lipoprotein yang paling banyak mengandung trigliserida. VLDL menyebabkan LDL dalam darah tinggi, kemudian pembuluh darah menyempit karenanya.

Mitos seputar kolesterol

Mitos seputar kolesterol (Gambar HDL/Ilustrasi/wikimedia)

Dalam penyebutan “memiliki kolesterol tinggi” berarti mengacu pada tingginya LDL dalam darah dan berisiko lebih tinggi pada penyakit serangan jantung. Pada umumnya tidak ada gejala atau tanda-tanda seseorang memiliki kolesterol tinggi (yang merupakan bagian dari penyebab sakit jantung dan pem*bu*nuh nomor satu pada laki-laki maupun perempuan). Serangan jantung sendiri memiliki sebutan “silent kil*ler”, yakni penyakit yang sifatnya mem*bu*nuh dan kemunculannya sering tidak disadari oleh si empunya.

Mitos seputar Kolesterol

Istilah kolesterol bukan lagi istilah awam bagi sebagian besar orang. Namun, tak banyak pula orang yang memahami dengan benar seputar kolesterol ini. Kebanyakan dari mereka hanya menganggap bahwa kolesterol merupakan semua lemak jahat yang ada di dalam tubuh. Anggapan-anggapan lain seputar kolesterol masih banyak, beberapa mitos yang bereda di masyarakat adalah sebagai berikut:

1. Makan kolesterol akan meningkatkan kolesterol

Pernyataan di atas terkesan masuk akal, namun ternyata tidak sepenuhnya benar. Karena itu, sebelum tahun 2015, Dietary Guidelines for Americans (DGAC), merekomendasikan batas konsumsi kolesterol tiap harinya ialah 300 mg dengan alasan bahwa mengonsumsi kolesterol akan meningkatkan kolesterol.

Tinjauan lebih jauh menemukan bahwa bukti mengonsumsi kolesterol tidak menaikkan level kolesterol dalam darah secara signifikan hingga berada pada batas yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, bukan lagi menjadi fokus kesehatan masyarakat untuk melarang konsumsi telur dan sejenisnya. Justru banyak mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol seperti daging merah dan makanan yang mengandung lemak jenuhlah yang lebih meningkatkan kolesterol dalam darah dibandingkan dengan makan kolesterol sendiri. Ditambah lagi mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol rendah, seperti dari tumbuh-tumbuhan akan lebih sehat.

2. Kopi meningkatkan kolesterol

Berdasarkan DGAC tahun 2015, beberapa studi menemukan bahwa kopi yang tidak difilter (kopi berampas) bisa meningkatkan LDL. Kabar baiknya, kopi yang disaring (kopi filter), yang lebih biasa dikonsumsi nampaknya tidak terlalu berefek pada kolesterol. Mereka mencatat bahwa tidak ada masalah bagi orang dewasa yang sehat untuk mengonsumsi kopi 3-5 cangkir sehari (atau lebih dari 400 mg per hari), tanpa khawatir meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, kanker, atau kematian dini. Bahkan, konsumsi kopi yang tidak berlebihan bisa mengurangi risiko terkena diabetes mellitus tipe 2, penyakit jantung dan liver, dan kanker endometrium.

3. Makanan berlemak merupakan makanan penuh kolesterol

Tidak semua makanan berlemak merupakan makanan yang kaya kolesterol. Faktanya, kolesterol hanya ditemukan pada makanan hewani. Sementara dari sumber makanan nabati yang berlemak seperti alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun bebas kolesterol. Makanan ini justru dalam beberapa pola diet diutamakan sebagai sumber nutrisi yang menyehatkan. Terutama kacang-kacangan dan minyak zaitun direkomendasikan sebagai komponen yang paling menyehatkan bagi jantung dalam diet orang Mediteriania.

[Baca juga: Mengenal Diet Mediterania untuk Gaya Hidup Lebih sehat]

4. Mengganti lemak jenuh dengan karbohidrat merupakan cara sehat untuk merendahkan kadar kolesterol

Berdasarkan GDAC tahun 2015, mengganti lemak jenuh dengan karbohidrat membuat kadar LDL darah turun. Dan pernyataan ini sepertinya cukup membuat hati senang dan merasa aman. Namun karbohidrat ternyata juga meningkatkan trigliserida dan menurunkan kadar HDL. Mengganti lemak jenuh dengan karbohidrat secara khusus justru berbahaya jika sumber karbohidratnya berasal dari biji-bijian dan menambahkan gula (soda, kue, cracker).

Solusi yang lebih baik dalam menurunkan LDL ialah dengan mengonsumsi PUFA (poly-unsaturated fats)/lemak tak jenuh bila dibandingkan dengan SFA (saturated fats)/lemak jenuh. Untuk satu persen kalori yang bertukar (PUFA masuk, dan SFA keluar) menurunkan 2-3% risiko penyakit jantung. Makanan yang mengandung PUFA ialah salmon, minyak bunga matahari, kedelai, dan kenari.

5. Hanya orang dewasa yang perlu memeriksakan kolesterolnya

Standar nasional untuk screening kesehatan merekomendasikan untuk anak-anak yang sehat fisiknya tetap memerlukan pemeriksaan kadar kolesterol. Pertama, saat mereka berada pada usia antara 9-11 tahun. Kemudian melakukan pemeriksaan lagi pada usia 17-21 tahun. Seorang dewasa tanpa faktor risiko sebaiknya mengetahui kadar kolesterolnya paling tidak empat hingga enam tahun sekali. Akan lebih baik jika orang dewasa yang memiliki faktor risiko kolesterol tinggi berkonsultasi dengan dokter untuk pemantauan kesehatannya. Berikut adalah faktor risiko seseorang memiliki kolesterol tinggi:

a. Me*ro*kok
Me*ro*kok bisa menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) dan bisa menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah sehingga hal ini akan berdampak terjadinya penyumbatan darah dan penimbunan lemak.

b. Diabetes
Penderita diabetes cenderung memiliki kolesterol LDL yang lebih padat dan berukuran kecil sehingga memudahkannya untuk masuk ke pembuluh darah dan menempel di pembuluh darah membentuk plak.

c. Obesitas

d. Tekanan darah tinggi (hipertensi)
Tekanan darah tinggi akan memaksa kerja jantung untuk memompa darah lebih banyak ke pembuluh darah. Efeknya, jaringan pada pembuluh darah bisa mengalami kerusakan. Pada kondisi inilah penumpukan kolesterol bisa saja terjadi.

e. Riwayat keluarga berkolesterol tinggi
Jika dalam keluarga terdapat riwayat memiliki kolesterol tinggi, maka seseorang akan memiliki kolesterol tinggi tidak bisa dihindari lagi. Hal ini disebabkan faktor genetik yang mempengaruhi proses metabolisme tubuh menyebabkan kolesterol yang dihasilkan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan orang pada umumnya.

f. Usia
Semakin usia bertambah, maka seseorang memiliki kadar kolesterol tinggi juga akan semakin meningkat.

g. Kurang olahraga
Menurut dr. Rachmad Wishnu Hidayat Sp.KO., penelitian menunjukkan bahwa olahraga bisa meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) 3-6% dan menurunkan kolesterol jahat (LDL) sampai 10%.

h. Stres
Stres bisa mempengaruhi produksi hormon tertentu, misalnya menekan pengeluaran hormon endorphin sehingga bisa menyebabkan kesehatan seseorang akan menurun. Hormon lain yang dipengaruhi stres ialah hormone kortisol. Stres bisa mengurangi produksi hormon kortisol sehingga meningkatkan penguraian lemak dalam tubuh. Stres juga terlibat dalam mengurangi kinerja beberapa organ tubuh.

6. Satu-satunya yang penting untuk diketahui ialah total kolesterol yang dimiliki

Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena pada dasarnya total kolesterol merupakan starting point (titik awal), bukan merupakan gambaran keseluruhan dari kolesterol. Secara umum, nilai total kolesterol di atas hingga melampaui 200 mg/dL darah sudah menjadi sinyal bahaya. Total kolesterol sendiri merupakan hasil total dari LDL, HDL, dan VLDL (very low density lipoprotein). Mereka yang berisiko rendah penyakit jantung jika LDL-nya di bawah 100 mg/dL, HDL di atas 60 mg/dL dan trigliserida di bawah 150 mg/dL.

Informasi di atas merupakan mitos seputar kolesterol yang sering di pahami oleh kebanyakan orang. Semoga dengan penjelasan di atas, informasi kita tentang kolesterol semakin bertambah dan bisa menjadikan kita lebih mawas diri terhadap kolesterol tinggi. Tetap hati-hati dalam mengonsumsi makanan, karena dengan pola makan yang baik, risiko terkena berbagai penyakit degeneratif akan semakin kecil.


Sumber :

  • www.livestrong.com/article/1011647-7-myths-cholesterol-debunked/
  • meetdoctor.com/mobile/topic/high-cholesterol
  • www.deherba.com/siapa-saja-yang-memiliki-risiko-kolesterol-tinggi.html

Leave a Reply

*