Dehidrasi: Jenis, Gejala, Penyebab dan Akibat Serta Cara Mencegah dan Mengatasi

Tubuh manusia didominasi oleh air (cairan), yang menempati hingga 70 persen berat tubuh. Karena itu air memiliki peran penting bagi tubuh dalam menjalankan berbagai fungsi di dalamnya untuk kelangsungan hidup makhluk hidup yang disokongnya. Namun tak jarang, cairan di dalam tubuh tidak berada dalam kondisi seharusnya karena berbagai faktor penyebab. Kondisi ketika tubuh tidak memiliki cukup cairan untuk menjalankan fungsinya secara normal kemudian disebut bahwa seseorang mengalami dehidrasi. Dehidrasi dapat menurunkan kinerja seseorang dalam bekerja. Namun sebenarnya tidak sesederhana yang selama ini orang kira, dehirasi pada taraf tertentu dapat berakibat fatal bagi tubuh. karena itu, penting bagi kita untuk mengenal lebih jauh tentang dehidrasi, menyangkut jenis, gejala dan tingkat dehidrasi, penyebab serta akibat yang ditimbulkan hingga bagaimana cara mencegah dan mengatasinya jika terlanjur terjadi.

Dehidrasi biasanya disebabkan karena tubuh kehilangan terlalu banyak cairan, diantaranya dialami oleh seseorang yang mengalami diare, muntah – muntah, mengeluarkan air mata atau keringat dan melalui pengeluaran urin secara berlebihan, serta dapat dialami oleh orang yang menderita penyakit tertentu. Jenis – jenis dehidrasi berdasarkan penyebabnya dibedakan menjadi:

Jenis-jenis dehidrasi

Dehidrasi-jenis, gejala, penyebab, akibat serta cara mencegah dan mengobatinya

Dehidrasi-jenis, gejala, penyebab, akibat serta cara mencegah dan mengobatinya (Ilustrasi/wikipedia)

  1. Dehidrasi hipertonik

Dehidrasi jenis ini lebih sering dialami oleh bayi dan anak – anak dibandingkan dengan orang dewasa. Dehidrasi hipertonik merupakan suatu kondisi cairan tubuh yang memiliki konsentrasi lebih tinggi dari pada cairan di dalam sel, yang dapat disebabkan oleh kehilangan banyak air yang dialami oleh tubuh ataupun karena konsentrasi atau kadar natrium (sodium) tubuh yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan cairan di dalam tubuh lebih pekat (konsentrasi lebih tinggi) dibandingkan dengan konsentrasi larutan di dalam sel. Hal ini menyebabkan tekanan osmosis di dalam sel lebih rendah dari pada di luar sel, sehingga air di dalam sel akan tertarik keluar sel yang menyebabkan sel – sel tubuh kehilangan banyak air.

2. Dehidrasi hipotonik

Kurangnya asupan garam atau sumber natrium lain, maupun karena kondisi tertentu dapat meyebabkan kadar natrium di dalam cairan tubuh atau darah berkurang jauh lebih rendah. Kondisi ini menyebabkan larutan di dalam sel lebih pekat (konsentrasi lebih tinggi) dibandingkan dengan konsentrasi larutan di luar sel atau dalam cairan tubuh. Hal ini menyebabkan air di dalam cairan tubuh akan bergerak masuk ke dalam larutan sel karena tekanan osmosis dalam cairan tubuh lebih rendah dibandingkan tekanan osmosis larutan sel.

3. Dehidrasi isotonik

Isotonik menunjukkan kondisi tekanan osmosis yang sama. Berbeda dengan dehidrasi hipertonik dan hipotonik yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi (kepekatan) antara larutan sel dengan cairan atau larutan di dalam tubuh (darah), pada dehidrasi isotonik kepekatan larutan di dalam sel sama dengan kepekatan larutan tubuh. Dehidrasi isotonik dapat terjadi ketika kadar air dan natrium di dalam tubuh berkurang dengan kadar yang sama, umumnya disebabkan oleh diare biasa sehingga tubuh kekurangan cairan sekaligus kekurangan natrium pada saat yang sama.

Gejala dehidrasi

Beberapa gejala dapat kita kenali ketika tubuh mengalami dehidrasi. Gejala – gejala tersebut menunjukkan tingkat dehidrasi yang sedang dialami penderita, yaitu:

  • Bila bibir kering, tubuh merasa haus dan lemas, itu menandakan tubuh sedang mengalami dehidrasi ringan. Dehidrasi ringan terjadi bila tubuh kehilangan cairan tubuh sebesar 5 persen dari berat badan.
  • Jika dehidrasi ringan dibiarkan, dapat berlanjut menjadi dehidrasi sedang yang ditandai dengan penurunan kekenyalan kulit, mata terlihat agak cekung serta bibir kering. Pada penderita dehidrasi sedang, cairan tubuhnya berkurang sebanyak 5 – 10 persen dari berat badan.
  • Sementara pada dehidrasi berat, tubuh telah kehilangan 10 – 15 persen cairan dari berat badannya, yang ditandai dengan nafas yang cepat dan dalam, tubuh sangat lemas hingga kesadaran menurun. Disamping itu terlihat pula gejala – gejala seperti pada dehidrasi ringan dan sedang, seperti bibir kering dan kekenyalan kulit menurun.

Penyebab Dehidrasi

Secara garis besar tubuh dapat mengalami dehidrasi karena 3 hal, yaitu:

  1. Aktivitas fisik

Seseorang yang memiliki atau melakukan aktivitas fisik yang tinggi baik olahraga maupun aktivitas fisik lainnya yang berpotensi menghasilkan lebih banyak keringat, yang menyebabkan tubuh akan kehilangan banyak cairan. Maka penting untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang tersebut dengan minum air putih dalam jumlah yang cukup.

2. Pola konsumsi (makanan dan minuman)

Asupan natrium bagi tubuh yang tidak diperhatikan dapat meningkatkan potensi dehidrasi. Mengonsumsi makanan maupun minuman yang mengandung natrium atau soda tinggi dapat meningkatkan kadar natrium dalam darah (larutan tubuh) sehingga tekanan osmosis di dalam larutan tubuh lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan osmosis dalam larutan sel. Hal ini juga dapat terjadi jika konsumsi air bagi tubuh kita sedikit. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya dehidrasi hipertonik. Sebaliknya, jika pola konsumsi kita terhadap makanan dan minuman cenderung rendah natrium yang berlangsung dalam waktu lama dan terus menerus dapat menyebabkan terjadi dehidrasi hipotonik. Dehidrasi karena pola konsumsi juga dapat terjadi jika kita cenderung mengonsumsi makanan atau minuman yang dapat memicu terjadinya diare atau muntah, sehingga tubuh akan kehilangan banyak cairan dan natrium.

3. Penyakit

Penderita penyakit tertentu seperti diabetes dan yang berkaitan dengan saluran pencernaan berpotensi lebih besar untuk mengalami dehidrasi. Penyakit diabetes dikenal juga sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula. Hal ini karena pada tubuh seseorang yang menderita penyakit ini, kandungan glukosa atau gula dalam darahnya jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal karena kelainan metabolisme tubuh yang disebabkan berbagai faktor. Untuk menyeimbangkan kadar glukosa dalam darah, tubuh akan membuangnya melalui urin, sehingga tubuh akan kehilangan banyak cairan dan natrium yang dapat meningkatkan potensi dehidrasi. Sementara seseorang yang menderita penyakit yang berkaitan dengan saluran pencernaan berisiko kehilangan banyak cairan tubuh karena pada umumnya penyakit ini menyebabkan muntah dan diare, sehingga meningkatkan potensi terserang dehidrasi.

Lalu seberapa bahayakah kondisi dehidrasi bagi tubuh?

Sebagai unsur penting penyusun tubuh, kekurangan cairan tentu dapat menyebabkan berbagai macam gangguan. Gangguan tersebut dapat berupa gangguan ringan hingga berat, tergantung tingkat dehidrasi atau kehilangan cairan tubuh yang dialami. Beberapa gangguan tersebut diantaranya:

  1. Gangguan konsentrasi – fokus
  2. Gangguan fungsi kognisi
  3. Tekanan darah
  4. Gangguan kinerja fisik tubuh – cepat lelah
  5. Gangguan mood hingga lemah mental
  6. Gangguan fungsi ginjal
  7. Kejang otot
  8. Gangguan pencernaan
  9. Perubahan suhu tubuh
  10. Gangguan kesadaran – pingsan – koma

Gejala dehidrasi hingga terjadi dehidrasi berat akan berbahaya bagi tubuh jika dibiarkan berlarut, bahkan dapat menyebabkan kematian. Maka penting untuk mengenal penyebab, gejala hingga cara mengatasinya. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menyembuhkan dehidrasi:

Cara mencegah dan menyembuhkan dehidrasi

[Baca juga: Cara mencegah dehidrasi pada anak yang diare]

  1. Minum air cukup. Kebutuhan air bagi setiap orang berbeda – beda. Suhu setempat, berat badan serta jenis aktivitas merupakan faktor penting yang mempengaruhi jumlah konsumsi air yang dibutuhkan tubuh.
  2. Kurangi konsumsi teh, kopi dan minuman bersoda. Ketiga jenis minuman tersebut mengandung zat diuretic yang dapat meningkatkan pembuangan urin, sehingga meningkatkan potensi tubuh mengalami dehidrasi. Atau Anda dapat mengganti cairan yang hilang dengan mengonsumsi air putih dalam jumlah seimbang.
  3. Atur pola makan. Selain perlu memperhatikan jenis dan jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh, untuk mencegah dan menyembuhkan dehidrasi penting juga memperhatikan pola makan. Hal ini terutama bagi penderita diabetes dan penyakit yang berkaitan dengan saluran pencernaan, untuk menghindari kehilangan cairan yang berlebih dari tubuh.

[Baca juga: Bukan hanya air minum saja, buah ini juga dapat menghilangkan dehidrasi]

Demikian tadi artikel yang ditulis untuk mengenal dehidrasi lebih jauh, tentang jenis, gejala dan tingkat dehidrasi, penyebab serta akibat yang ditimbulkan hingga bagaimana cara mencegah dan mengatasinya/ menyembuhkan dehidrasi. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

*