Kebutuhan Manusia terhadap Air dari Janin hingga Masa Tua

By | November 10, 2015
Kebutuhan manusia akan air

Air merupakan komponen pembentuk tubuh terbesar dalam tubuh manusia. Karena mayoritas tubuh manusia terdiri dari air, maka selama manusia hidup, mulai dari janin hingga manusia tua, air akan tetap dibutuhkan.

Kebutuhan setiap fase perkembangan manusia terhadap air tidak bisa disamakan. Kebutuhan air pada janin akan sangat berbeda dengan kebutuhan air pada anak-anak usia sekolah, terlebih jika dibandingkan dengan kebutuhan air pada orang dewasa. Perbedaan tersebut terjadi karena faktor fisiologis yang berbeda dan tingkat aktivitas manusia dalam masing-masing fasenya juga berbeda. Berikut adalah ulasan kebutuhan air pada manusia mulai dari janin hingga orang tua:

Kebutuhan manusia akan air

Kebutuhan manusia akan air (Ilustrasi/pixabay)

  1. Kebutuhan air untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Secara umum, kebutuhan air selama masa kehamilan meningkat agar dapat mendukung sirkulasi janin, produksi cairan amnion, dan volume darah yang meningkat. Selain itu, di masa kehamilan, khususnya pada trimester tiga, wanita akan membutuhkan lebih banyak konsumsi air terutama bila ia mengalami inkontinensia urin fisiologis akibat adanya tekanan pada kandung kemih oleh uterus yang membesar.

Kurangnya asupan air pada wanita hamil dapat menimbulkan kurang air yang dapat mengakibatkan sejumlah gangguan tubuh selama kehamilan. Gangguan ini dibagi menjadi gangguan akibat hipovolemia ringan, akut, dan hipovolemia ringan kronik.

Menurut AKG, kecukupan air untuk wanita hamil adalah 2,3 L/hari, dan untuk ibu menyusui adalah 2,8 L/hari. The Institute of Medicine, National Academies of Science, merekomendasikan wanita hamil untuk mendapat asupan air sekitar 3,0 L (sekitar 12 gelas) setiap harinya. Meskipun demikian, ada pula data dari sejumlah penelitian yang menghitung kebutuhan air pada wanita hamil sesuai dengan kebutuhan kalorinya. Departemen Kesehatan California menyatakan bahwa tambahan air minum pada wanita hamil sekitar 2-3 gelas setiap harinya. Hasil yang serupa juga ditunjukkan oleh Ershow dkk. yang menyatakan tambahan air minum pada wanita hamil adalah sekitar 640 mL per hari.

Wanita menyusui perlu mendapat asupan air lebih banyak karena bertambahnya kewajiban baru untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. The Institute of Medicine menyarankan konsumsi air pada ibu menyusui sebanyak 3,1 L (atau 13 gelas) setiap harinya. Ibu menyusui perlu didorong untuk mendapatkan air minum yang cukup. Saran umum adalah minum segelas air setiap kali makan dan setiap kali menyusui.

Kisaran jumlah air yang dibutuhkan memang cukup besar mengingat setiap ibu hamil menghadapi kondisi yang berbeda-beda. Perlu diingat, bahwa air yang masuk ke dalam tubuh tidak selalu harus dihitung dari minum air putih saja. makanan yang dikonsumsi mengandung 20% dari keseluruhan asupan air tubuh, sedangkan sisanya dipenuhi dari asupan air langsung. Konsumsi air minum yang cukup, jelas sangat diperlukan bagi wanita hamil dan menyusui, tetapi perlu disadari yang diperlukan adalah konsumsi yang berimbang, tidak berlebihan, dan memilih sumber air minum yang aman.

  1. Kebutuhan air untuk Neonatus, Bayi dan Anak-anak

Jumlah air tubuh pada bayi baru lahir relatif lebih besar bila dibandingkan dengan anak atau orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh kurangnya jaringan lemak, dan secara relatif organ visera lebih berat dibandingkan dengan berat tubuh seluruhnya. Setelah umur 1 bulan, jaringan otot mencakup lebih kurang 60% dari masa seluler. Jaringan tulang menempati jumlah yang lebih sedikit pada bayi dibandingkan dengan anak atau dewasa.

Terdapat perbedaan fisiologis antara bayi dan anak dengan orang dewasa dalam hal cairan tubuh. Perbedaan tersebut mencakup perbedaan komposisi, metabolisme, dan derajat kematangan sistem pengaturan air dan elektrolit. Metabolisme air juga sangat berbeda pada bayi bila dibandingkan dengan anak dan orang dewasa. Kecepatan siklus air pada bayi sangat tinggi, sekitar 5 kali lebih besar per kilogram berat badan bila dibandingkan dengan orang dewasa. Oleh karena itu, anak cenderung rawan terhadap penyakit yang menimbulkan dehidrasi. Perbedaan lain adalah kematangan sistem pengaturan air dalam berbagai sistem atau organ tubuh, belum matangnya fungsi ginjal akan menyebabkan perbedaan komposisi plasma pada bayi bila dibandingkan dengan anak yang lebih besar.

  1. Kebutuhan air untuk orang Dewasa

Konsumsi air yang cukup pada orang dewasa dalam keadaan basal adalah sebanyak 2 Liter dalam 24 jam. Volume asupan air tambahan disesuaikan dengan keadaan, misalnya demam, latihan fisik, suhu lingkungan yang tinggi, dan lain-lain. Tanda kebutuhan minum kesemuanya ini akan diberi isyarat haus oleh pusat rasa haus yang berada di hipotalamus.

Pada remaja yang pola makan dan perilakunya cenderung berubah, biasanya mereka akan mengurangi asupan air dengan anggapan bahwa minum air terlalu banyak bisa menyebabkan kegemukan. Kondisi yang seperti ini harus selalu diperhatikan mengingat bahwa jika kebiaasan ini terjadi terus menerus, maka mereka bisa mengalami kekurangan cairan tubuh.

Kebutuhan cairan pada masing-masing individu berbeda dalam setiap harinya. Jumlah yang dibutuhkan bergantung pada besar asupan makanan, cuaca, dan aktifitas. Adapun pesan nomor 9 dari 13 pesan dasar Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan tahun 1994. Isi pesan tersebut yaitu, “Minumlah air dalam jumlah yang cukup aman”. Dalam pedoman tersebut belum jelas tentang jumlah yang cukup untuk orang Indonesia yang tinggal di wilayah beriklim tropis. Acuan berapa banyak air yang harus diminum, disarankan untuk minum air sebanyak 2 Liter atau 8 gelas per hari untuk menjaga kesehatan tubuh serta mengoptimalkan kemampuan fisiknya

  1. Kebutuhan air untuk Usia Lanjut.

Pada usia lanjut (usia ≥ 60 tahun) terjadi delapan perubahan fisiologi yang memudahkan kelompok ini masuk dalam keadaan hiponatremia (kekurangan natrium plasma). Perubahan yang dimaksud yaitu penurunan volume air tubuh total, penurunan laju filtrasi glomerulus, penurunan kemampuan pemekatan urin, peningkatan kadar ADH plasma, peningkatan kadar ANP (Atrial Nutrietic Peptide), penurunan kadar aldosteron, penurunan kepekaan pusat rasa haus, dan penurunan kemampuan bersihan air. Hiponatremia dapat menimbulkan dampak yang tidak baik mulai dari yang ringan seperti mengantuk, lemas hingga yang berat seperti kejang, kesadaran menurun, dan kematian. Dampak yang ringan biasanya disebabkan oleh hiponatremia akut, artinya keadaan hiponatremia berlangsung cepat, kurang dari 72 jam.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Gankam dkk. memperlihatkan kekerapan patah tulang pada usia lanjut lebih tinggi bermakna pada usia lanjut yang mengalami hiponatremia kronik. Penyebab tertinggi keadaan hiponatremia pada usia lanjut adalah asupan air yang tinggi.

Pada penelitian yang dilakukan di Panti Werda di Jakarta, Indonesia, terhadap usia lanjut yang hanya melakukan aktivitas ringan sesuai kebiasaan yang dilakukan usia lanjut pada umumnya, disimpulkan bahwa asupan air yang pada usia lanjut, optimal sebanyak 1.000 mL atau 1 Liter air sehari. Optimal artinya volume asupan air yang tidak menyebabkan hipovolemia dan tidak menyebabkan hiponatremia. Pada keadaan usia lanjut, kepekaan pusat rasa haus ini berkurang sehingga diperlukan perhatian lebih dari pengaruh usia lanjut (care-giver) untuk mengawasi konsumsi air pada kelompok ini. Asupan air pada usia lanjut tidak dianjurkan lebih dari 1,5 L dalam sehari.

Semoga informasi tentang kebutuhan air pada manusia di atas bermanfaat untuk Anda. Paham sejak dini, sehat lebih awal, sesuai dengan slogan “mencegah lebih baik daripada mengobati”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *