11 Cara Menangani Syndrome Baby Blues

Apakah itu syndrome baby blues? Syndrome baby blues merupakan syndrome yang sering dialami oleh ibu-ibu pasca melahirkan. Syndrome ini ditandai dengan munculnya perasaan gelisah, sedih, emosi yang berubah-ubah, kadang marah dan tiba-tiba menangis, perasaan yang sensitif, dan sering merasa lelah.

Penyebab Syndrome Baby Blues

Setelah melahirkan, hormon-hormon yang membantu proses persalinan akan menurun drastis. Lalu, diganti dengan hormon untuk menyusui. Terjadinya perubahan hormon ini dapat menimbulkan efek tidak nyaman, sehingga memicu munculnya perasaan-perasaan negatif.

Penyebab lainnya ialah kondisi psikologis si ibu. Biasanya disebabkan karena ada rasa kecewa, rasa lelah dan bosan, kesulitan menyusui, rasa khawatir karena tidak bisa mengurus si kecil, kewalahan karena harus mengurus suami, anak, serta diri sendiri di waktu yang bersamaan.

Baby Blues Syndrome

Baby Blues Syndrome (Ilustrasi/pixabay)

Cara Penanganan Syndrome Baby Blues

Tidak jarang syndrome baby blues ini membuat si ibu menjadi depresi. Untuk meminimalisir terjadinya depresi, kita bisa terapkan hal-hal berikut ini:

  1. Menyiapkan Proses Kelahiran Bayi Dengan Matang

Dengan persiapan yang matang, kita bisa mengatasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi, sehingga rasa kecewa dan depresi setelah persalinan dapat kita hindari. Persiapan dapat dimulai sejak awal kehamilan dengan mengonsumsi makanan, vitamin, atau suplemen penambah stamina yang boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Selain itu, kesiapan mental dan psikis juga perlu dilatih. Transportasi harus selalu siap, dan jangan lupa siapkan uang dan peralatan yang sekiranya diperlukan.

2. Memberi Dukungan

Dukungan moral dari keluarga, rekan, terutama suami sangat dibutuhkan oleh para ibu baru. Karena kurangnya pengalaman, peran orang tua dan mertua sangat dibutuhkan untuk membantu meringankan tugas si ibu baru dalam menyiapkan segala keperluan si bayi. Selain itu, kasih sayang dan perhatian dari orang terdekat, terutama dari sang suami sangat dibutuhkan agar si ibu tetap merasa bahagia dan tidak terasingkan.

3. Sering Bersosialisasi

Komunikasi dengan orang-orang terdekat dapat memberikan energi positif. Komunikasi dengan orang yang pernah mengalami pengalaman yang sama akan menjadi lebih menyenangkan. Misalnya dengan ibu dan ibu mertua. Kita bisa berkonsultasi dan saling bertukar pikiran dengan orang yang lebih mengerti seperti beliau.

4. Curhat Melalui Tulisan

Beban yang ada di dalam pikiran akan terasa lebih ringan ketika kita menulisnya di buku diary. Bahkan bagi sebagian orang, menuliskan masalah dalam jurnal atau buku terasa sangat membantu.

5. Menghirup Udara Pagi

Udara pagi yang segar dapat membantu menyegarkan pikiran yang jenuh. Udara pagi hari belum mengandung banyak polusi, sehingga baik untuk peredaran darah. Polusi yang disebabkan oleh asap kendaraan bermotor membuat darah sukar mengikat oksigen. Akibatnya, otak dan jaringan tubuh yang lain kekurangan oksigen. Otak yang yang kekurangan oksigen akan membuat sakit kepala.

6. Makan Makanan Yang Bergizi

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ya, makanan yang sehat dan segar, seperti buah-buahan, dapat membantu menetralisir racun dalam tubuh dan membuat tubuh segar kembali.

7. Perbanyak Minum Air Putih

Air putih membantu menyegarkan pikiran dan membuat badan menjadi fresh. Air putih juga dapat melarutkan racun-racun dalam tubuh, sehingga dapat membuat tubuh kita fit dan sehat.

8. Melakukan Meditasi Dan Relaksasi

Meditasi dan relaksasi perlu dilakukan secara rutin setiap hari. Minimal sisihkan waktu 1 jam untuk melakukan meditasi rutin. Meditasi bisa dilakukan dengan rebahan sambil memandangi langit-langit dengan mengosongkan pikiran. Atau dengan duduk sambil memejamkan mata dan mengosongkan pikiran. Setelah melakukan meditasi ini, diharapkan pikiran menjadi tenang dan segar kembali.

9. Cukup Tidur

Si kecil yang sering menangis di malam hari membuat ibu sering begadang. Dalam mengatasi hal ini, diperlukan peran pengganti untuk si ibu. Peran ibu dalam mengurus bayi dapat digantikan oleh suami atau orangtua.

10. Tidak Terlalu Berekspektasi

Harapan yang terlalu tinggi seringkali menjatuhkan rasa percaya diri kita, ketika harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak terlalu berharap pada masa depan. Dan menyerahkan semua yang terjadi kepada Allah SWT.

11. Konsultasi

Konsultasi sebaiknya dilakukan dengan psikolog yang memang ahli dengan masalah ini. Setidaknya dengan berkonsultasi, si ibu menjadi tahu bahwa apa yang dialaminya bukanlah sesuatu yang “abnormal”. Sehingga dapat menumbuhkan kembali kepercayaan dirinya.

Leave a Reply

*