Penyebab Bayi Ngorok

Aktivitas bayi di minggu awal kelahirannya memang lebih sering dihabiskan di tempat tidur. Tidur pada bayi menjadi salah satu bentuk istirahat dari kelelahannya serta dapat membantu pertumbuhannya. Aktivitas tidur bayi pada dasarnya bisa dibedakan menjadi enam tahap. Tahapan tersebut akan berangsur – angsur sesuai dengan aktivitas bayi. Salah satu contohnya ialah sejumlah bayi yang tidur nyenyak akan bangun dengan tenang maupun menangis. Hal yang sangat berhubungan dengan aktivitas tidur bayi tidak hanya enam tahapan tersebut saja, tetapi juga perubahan yang sering kali terjadi saat mereka terlelap. Salah satunya ialah suara yang ditimbulkan saat bayi tidur yakni ngorok. Mungkin Anda sering bertanya tanya tentang penyebab bayi ngorok, tidak sedikit ibu yang juga menghubungkannya dengan alergi.

Penyebab bayi ngorok

Penyebab bayi ngorok (Ilustrasi/pixabay)

Saat tertidur, tidak sedikit bayi yang mempunyai suara nafas seperti halnya orang dewasa yang sedang mendengkur. Bayi yang mendengkur atau ngorok memang sering dianggap wajar. Ngorok pada bayi justru dipercaya menjadi sebuah pertanda bahwa ia telah pulas serta mempunyai kualitas tidur yang baik. Meski sebuah penelitian menyimpulkan bahwa bayi yang sering ngorok saat tidur nantinya dapat menjadi anak yang gelisah dan hiperaktif, namun hal tersebut juga didukung dengan fakta saat ini. Penelitian terbaru juga menyetujui bahwa gangguan pernafasan saat tidur (ngorok) nantinya dapat menimbulkan gangguan perilaku di kemudian hari. Pada bayi berusia 9 hingga 69 bulan, ngorok bahkan dapat membuat nafas menjadi berhenti serta dihubungkan dengan resiko anak yang hiperaktif. Usia bayi memang dapat berpengaruh akan kecenderungan resiko untuk hiperaktif. Pada bayi berusia 6 hingga 69 bulan yang sering tidur bersuara, 60% diantaranya akan menjadi hiperaktif saat usianya menginjak 7 tahun. Hal tersebut menandakan adanya gangguan pernapasan yang memerlukan perhatian sedini mungkin sehingga penyebab utamanya perlu segera dicari tahu.

Penelitian selanjutnya mengatakan bahwa bayi yang tidurnya mengorok namun masih dapat beraktivitas dengan baik, memiliki nafsu makan yang tinggi, serta tidak mengalami gangguan kesehatan lainnya, maka ia dikatakan normal. Penyebab bayi mengorok disebabkan karena adanya penyumbatan yang terjadi di jalan napas sehingga aliran udara baik yang masuk ke dalam tubuh bayi maupun keluar melalui hidung bayi menjadi tidak lancar dan dapat menyebabkan timbulnya bunyi saat bernafas. Penyumbatan pada saluran nafas bayi bisa diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya ialah berat badan bayi yang berlebihan. Berat badan berlebih pada bayi dapat diketahui melalui indek tinggi badan dan berat badan. Jika beraat badan melebihi normal, maka dikategorikan sebagai obesitas. Berat badan yang berlebihan dapat menyebabkan tidur ngorok pada bayi. Ngorok saat tidur juga dapat disebabkan karena riwayat kesehatan bayi, misalnya saja alergi. Alergi bisa disebabkan karena debu, binatang, asap rokok, atau benda yang lainnya. Jika penyebab utamanya ialah alergi, maka Anda sebaiknya memastikan sumber dari alergi tersebut sehingga pemicunya dapat diatasi dan dihindari.

Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi bayi yang ngorok ialah dengan merubah posisi tidur bayi. Posisi tidur dapat diubah dengan cara dimiringkan. Dengan cara tersebut, saluran nafas bayi menjadi lancar dan suara ngorok pun akan semakin berkurang. Sementara pada bayi yang ngorok karena kondisi kesehatannya yang terganggu, misalnya saja flu, maka Anda dapat mengatasinya dengan cara menegakkan tubuh bayi dan menyangganya menggunakan tangan, kemudian usap dadanya secara perlahan. Anda juga dapat mengatasinya dengan cara menempatkan bayi secara tengkurap dan menepuk bagian punggungnya. Sebelum melakukan cara tersebut, pastikan kondisi anak tidak setelah makan. Karena hal tersebut dapat mengganggu proses pencernaannya. Meski bayi yang ngorok pada dasarnya dapat sembuh dengan sendirinya, namun jika kondisi tersebut disertai dengan keluhan kesehatan, sebaiknya Anda segera mengkonsultasikannya pada dokter untuk mengurangi resiko yang semakin buruk di kemudian hari.

Leave a Reply

*