Resusitasi Jantung Paru atau RJP merupakan keterampilan pertolongan darurat yang dapat membantu mempertahankan aliran darah ke otak dan organ penting ketika seseorang mengalami henti jantung. Mengenali kondisi dengan cepat, segera meminta bantuan, melakukan kompresi dada yang benar, dan menggunakan AED sesegera mungkin merupakan bagian penting dari pertolongan.
Resusitasi Jantung Paru (RJP), atau cardiopulmonary resuscitation (CPR), dilakukan ketika seseorang tidak responsif dan tidak bernapas normal atau hanya megap-megap.
Tujuan RJP bukan sekadar “membuat jantung berdetak kembali”. Kompresi dada membantu mempertahankan aliran darah sementara ke otak dan organ vital sampai bantuan medis dan alat defibrillator atau AED tersedia.
Bagi penolong awam, jangan menghabiskan waktu mencoba memastikan denyut nadi. Jika korban tidak merespons dan tidak bernapas normal, segera aktifkan layanan darurat dan mulai RJP.
Jawaban Singkat
Jika orang dewasa tiba-tiba tidak responsif dan tidak bernapas normal atau hanya megap-megap, segera hubungi 119 atau layanan darurat setempat, minta AED bila tersedia, lalu mulai kompresi dada di tengah dada dengan kecepatan 100–120 kali per menit.
Penolong awam yang belum terlatih dapat melakukan Hands-Only CPR, yaitu kompresi dada tanpa napas bantuan pada orang dewasa atau remaja yang tiba-tiba kolaps.
Jika sudah terlatih melakukan RJP, lakukan 30 kompresi diikuti 2 napas bantuan.
Pada anak dan bayi, napas bantuan lebih penting karena henti jantung pada kelompok usia tersebut sering berkaitan dengan gangguan pernapasan atau kekurangan oksigen.
Apa Itu Resusitasi Jantung Paru?
RJP merupakan tindakan pertolongan darurat ketika jantung tidak lagi memompa darah secara efektif.
Saat terjadi henti jantung, aliran darah ke otak dan organ vital turun dengan cepat. Tanpa pertolongan, kerusakan organ dapat terjadi dalam waktu singkat.
Kompresi dada bertujuan mempertahankan sebagian aliran darah selama menunggu pertolongan medis lanjutan.
RJP akan lebih efektif jika dikombinasikan dengan penggunaan AED atau Automated External Defibrillator ketika alat tersebut tersedia.
Kapan RJP Harus Dilakukan?
Untuk penolong awam, curigai henti jantung jika seseorang:
- tidak memberikan respons ketika dipanggil atau disentuh;
- tidak bernapas normal; atau
- hanya megap-megap atau gasping.
Gasping bukan pernapasan normal.
Penolong awam tidak perlu membuang waktu mencari denyut nadi di leher atau pergelangan tangan.
Jika korban tidak responsif dan tidak bernapas normal, segera hubungi pertolongan darurat dan mulai RJP.
Cara Melakukan RJP pada Orang Dewasa
1. Pastikan Lokasi Aman
Sebelum mendekati korban, pastikan lokasi tidak membahayakan Anda.
Perhatikan kemungkinan bahaya seperti kendaraan, api, kabel listrik, gas, reruntuhan, atau kondisi lain yang dapat menyebabkan penolong ikut menjadi korban.
2. Periksa Respons
Panggil korban dengan suara keras dan sentuh atau tepuk bahunya.
Jika tidak memberikan respons, perhatikan apakah ia bernapas normal.
Jangan menghabiskan waktu terlalu lama pada tahap ini.
3. Hubungi 119 dan Cari AED
Jika korban tidak responsif dan tidak bernapas normal, segera hubungi 119 atau layanan kegawatdaruratan setempat.
Jika ada orang lain di sekitar, minta satu orang menelepon layanan darurat dan orang lain mencari AED.
Bila menggunakan telepon genggam, aktifkan speaker sehingga Anda dapat mengikuti petunjuk operator sambil mulai melakukan RJP.
4. Mulai Kompresi Dada
Baringkan korban terlentang di permukaan yang keras dan datar jika memungkinkan.
Letakkan pangkal satu telapak tangan di tengah dada. Letakkan tangan lainnya di atas tangan pertama.
Jaga lengan tetap lurus dan posisikan bahu tepat di atas tangan.
Lakukan kompresi dengan:
- kecepatan 100–120 kali per menit;
- kedalaman sekitar 5–6 cm pada orang dewasa;
- tekanan lurus ke bawah;
- dada dibiarkan kembali mengembang setelah setiap kompresi;
- jeda kompresi seminimal mungkin.
Jangan bersandar terus-menerus pada dada karena dada perlu kembali ke posisi semula agar jantung dapat terisi kembali.
Hands-Only CPR untuk Orang Dewasa
Jika Anda belum pernah mengikuti pelatihan RJP atau tidak mampu memberikan napas bantuan, lakukan Hands-Only CPR.
Prinsipnya:
Hubungi bantuan → tekan keras dan cepat di tengah dada → gunakan AED sesegera mungkin.
Terus lakukan kompresi hingga:
- korban mulai bernapas normal atau menunjukkan tanda kehidupan;
- AED tersedia dan meminta Anda mengikuti instruksi;
- tenaga medis mengambil alih;
- lokasi menjadi tidak aman; atau
- Anda secara fisik tidak mampu melanjutkan.
RJP dengan Napas Bantuan
Jika Anda telah terlatih memberikan RJP lengkap, gunakan pola:
30 kompresi : 2 napas
Setelah 30 kompresi, buka jalan napas sesuai teknik yang telah dipelajari dalam pelatihan.
Berikan dua napas bantuan secukupnya hingga dada terlihat naik.
Hindari meniup terlalu kuat atau terlalu banyak karena ventilasi berlebihan tidak membantu dan dapat mengganggu kualitas RJP.
Segera kembali melakukan kompresi setelah dua napas.
Cara Menggunakan AED
AED merupakan alat yang dapat menganalisis irama jantung dan memberikan atau menyarankan kejutan listrik bila memang diperlukan.
Perangkat ini dirancang agar dapat digunakan oleh masyarakat dengan mengikuti petunjuk suara dan gambar.
Saat AED tersedia:
- nyalakan perangkat;
- buka pakaian yang menutupi dada;
- pasang pad sesuai gambar pada AED;
- jangan menyentuh korban saat alat menganalisis irama;
- jika AED meminta shock, pastikan tidak ada yang menyentuh korban;
- ikuti instruksi perangkat;
- segera lanjutkan kompresi setelah shock atau jika AED menyatakan shock tidak diperlukan.
Jangan menunda penggunaan AED hanya karena Anda belum pernah menggunakannya sebelumnya.
Ikuti instruksi suara perangkat langkah demi langkah.
Cara Melakukan RJP pada Anak
Dalam konteks RJP, anak umumnya merujuk pada usia sekitar 1 tahun hingga sebelum atau sekitar masa pubertas.
Jika anak tidak responsif dan tidak bernapas normal:
- minta bantuan;
- aktifkan layanan darurat;
- minta AED;
- dan segera mulai RJP.
Untuk satu penolong yang terlatih, lakukan:
30 kompresi : 2 napas
Kecepatan kompresi tetap 100–120 kali per menit.
Tekan dada sekitar sepertiga diameter depan-belakang dada, kira-kira sekitar 5 cm.
Gunakan satu atau dua tangan tergantung ukuran anak dan kemampuan penolong mencapai kedalaman kompresi yang tepat.
Mengapa Napas Bantuan Penting pada Anak?
Henti jantung pada anak lebih sering didahului masalah pernapasan dibandingkan henti jantung mendadak pada orang dewasa.
Karena itu, kombinasi kompresi dada dan napas bantuan sangat dianjurkan bila penolong mampu melakukannya.
Namun, jika Anda tidak mampu memberikan napas bantuan, tetap lakukan kompresi dada daripada tidak memberikan pertolongan sama sekali.
Cara Melakukan RJP pada Bayi
Bayi dalam konteks ini berarti anak berusia kurang dari sekitar 1 tahun, di luar kondisi bayi baru lahir yang memerlukan protokol resusitasi neonatal tersendiri.
Jika bayi:
- tidak responsif;
- tidak bernapas normal;
- atau hanya megap-megap,
segera aktifkan pertolongan dan mulai RJP.
Untuk satu penolong terlatih:
30 kompresi : 2 napas
Kecepatan kompresi tetap 100–120 kali per menit.
Kedalaman kompresi sekitar sepertiga diameter dada, kira-kira 4 cm.
Pada pedoman terbaru, teknik dua jari tidak lagi menjadi pilihan utama untuk kompresi bayi. Teknik yang dapat digunakan antara lain pangkal satu tangan atau teknik dua ibu jari dengan kedua tangan melingkari dada pada penolong yang terlatih.
Yang terpenting adalah menghasilkan kompresi dengan kedalaman yang memadai tanpa menekan terlalu dalam.
Ringkasan Perbedaan RJP Dewasa, Anak, dan Bayi
| Aspek | Dewasa | Anak | Bayi |
|---|---|---|---|
| Kecepatan kompresi | 100–120/menit | 100–120/menit | 100–120/menit |
| Kedalaman | 5–6 cm | ±5 cm | ±4 cm |
| Posisi tangan | Dua tangan | Satu atau dua tangan | Pangkal satu tangan / teknik dua ibu jari |
| Rasio penolong tunggal terlatih | 30:2 | 30:2 | 30:2 |
| Napas bantuan | Dianjurkan bila terlatih | Sangat dianjurkan | Sangat dianjurkan |
| AED | Secepat mungkin | Secepat mungkin | Secepat mungkin |
Jika tersedia pad pediatrik untuk anak atau bayi, gunakan sesuai petunjuk AED.
Jika hanya tersedia pad dewasa, ikuti petunjuk perangkat dan pastikan kedua pad tidak saling bersentuhan.
Apa Perbedaan Henti Jantung dan Serangan Jantung?
Henti jantung dan serangan jantung bukan kondisi yang sama.
Henti jantung terjadi ketika jantung tiba-tiba tidak lagi memompa darah secara efektif. Korban biasanya kehilangan kesadaran dan tidak bernapas normal.
Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke sebagian otot jantung tersumbat. Penderitanya dapat masih sadar dan masih bernapas.
Karena itu, jangan melakukan RJP pada seseorang yang masih sadar dan bernapas normal hanya karena mengalami nyeri dada.
Untuk memahami keluhan nyeri dada yang dapat berkaitan dengan gangguan aliran darah jantung, baca panduan angin duduk atau angina, gejala, pertolongan pertama, dan kapan perlu ke IGD.
Jika penderita nyeri dada kemudian menjadi tidak responsif dan tidak bernapas normal, perlakukan kondisi tersebut sebagai dugaan henti jantung dan mulai RJP.
Apakah Penolong Awam Harus Memeriksa Denyut Nadi?
Tidak.
Untuk masyarakat umum, penilaian difokuskan pada dua hal utama:
korban tidak responsif + tidak bernapas normal atau hanya gasping.
Mencari denyut karotis atau denyut di pergelangan tangan dapat sulit dilakukan secara akurat dalam keadaan panik dan dapat menyebabkan kompresi terlambat.
Pemeriksaan nadi lebih relevan bagi tenaga kesehatan yang memang terlatih melakukan penilaian tersebut.
Apakah Mulut Korban Harus Dibersihkan dengan Jari?
Tidak secara rutin.
Jangan memasukkan jari secara membabi buta ke dalam mulut korban untuk mencari benda asing.
Jika benda terlihat jelas dan mudah diambil, benda tersebut dapat dikeluarkan dengan hati-hati.
Namun, melakukan blind finger sweep dapat mendorong benda asing lebih dalam ke saluran napas.
Jika korban tersedak, gunakan prosedur pertolongan tersedak yang sesuai.
Kapan RJP Harus Dihentikan?
Penolong awam tidak menentukan kematian berdasarkan:
- ukuran pupil;
- warna kulit;
- perkiraan berapa menit RJP telah dilakukan;
- atau aturan “30 menit”.
Teruskan RJP sampai:
- korban mulai bergerak atau bernapas normal;
- tenaga medis mengambil alih;
- AED meminta penghentian sementara untuk analisis;
- lokasi menjadi berbahaya;
- atau Anda secara fisik tidak sanggup melanjutkan.
Keputusan medis untuk menghentikan resusitasi dilakukan oleh tenaga kesehatan berdasarkan kondisi dan protokol kegawatdaruratan.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Melakukan RJP
Beberapa kesalahan dapat menurunkan kualitas pertolongan:
- terlalu lama mencoba mencari denyut;
- menganggap gasping sebagai napas normal;
- kompresi terlalu lambat;
- kompresi terlalu dangkal;
- terlalu sering menghentikan kompresi;
- tidak membiarkan dada kembali mengembang;
- memberikan napas terlalu banyak atau terlalu kuat;
- terlambat menggunakan AED;
- menunggu ambulans tanpa melakukan apa pun.
Pada bayi, hindari menggunakan teknik lama hanya karena pernah melihatnya dalam artikel atau video lama. Pedoman pertolongan dapat berubah ketika bukti baru tersedia.
Apakah RJP Dapat Mematahkan Tulang Rusuk?
Cedera tulang rusuk dapat terjadi selama kompresi dada, terutama pada orang dewasa atau lansia.
Namun, pada korban yang benar-benar mengalami henti jantung, mempertahankan aliran darah jauh lebih penting daripada kekhawatiran terhadap kemungkinan cedera tulang rusuk.
Jangan menghentikan RJP hanya karena mendengar atau merasakan bunyi tertentu jika korban tetap tidak responsif dan tidak bernapas normal.
Apakah RJP Selalu Berhasil?
Tidak.
RJP tidak menjamin seseorang akan kembali sadar atau selamat.
Keberhasilan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk:
- penyebab henti jantung;
- seberapa cepat kondisi dikenali;
- seberapa cepat kompresi dimulai;
- kualitas kompresi;
- seberapa cepat AED digunakan;
- kondisi kesehatan korban;
- serta waktu kedatangan tenaga medis.
Karena itu, hindari klaim seperti “RJP pasti berhasil jika dilakukan dalam satu menit” atau angka keberhasilan yang terlalu sederhana.
Yang jelas, pertolongan yang dimulai lebih cepat memberikan peluang yang lebih baik dibanding membiarkan korban tanpa bantuan.
Apakah Artikel Ini Cukup untuk Belajar RJP?
Artikel dapat membantu memahami urutan dan prinsip dasarnya, tetapi keterampilan RJP jauh lebih baik dipelajari melalui pelatihan praktik langsung.
Pelatihan dengan manekin membantu peserta memahami:
- posisi tangan;
- kedalaman kompresi;
- kecepatan kompresi;
- recoil dada;
- pemberian napas;
- serta cara menggunakan AED.
Jika mempunyai kesempatan mengikuti pelatihan Basic Life Support atau CPR yang terstruktur, manfaatkan kesempatan tersebut.
Pertanyaan Umum tentang RJP
Apakah RJP sama dengan pijat jantung?
Istilah “pijat jantung” sering digunakan masyarakat untuk menyebut kompresi dada. Dalam RJP modern, istilah yang lebih tepat adalah kompresi dada, karena jantung tidak dipijat secara langsung dari luar.
Berapa kecepatan kompresi RJP?
Untuk dewasa, anak, dan bayi, kecepatan yang digunakan adalah sekitar 100–120 kompresi per menit.
Berapa kedalaman kompresi untuk orang dewasa?
Sekitar 5–6 cm.
Tekan cukup dalam untuk menghasilkan aliran darah, tetapi hindari kompresi yang terlalu dalam.
Apakah harus memberikan napas dari mulut ke mulut?
Tidak selalu.
Pada orang dewasa yang tiba-tiba kolaps, penolong awam yang tidak terlatih dapat melakukan Hands-Only CPR.
Jika terlatih, gunakan kombinasi kompresi dan napas.
Pada anak dan bayi, napas bantuan lebih dianjurkan karena gangguan pernapasan lebih sering menjadi bagian dari penyebab henti jantung.
Apakah boleh memeriksa nadi sebelum mulai RJP?
Penolong awam tidak perlu menunggu pemeriksaan nadi.
Jika korban tidak responsif dan tidak bernapas normal atau hanya gasping, aktifkan layanan darurat dan mulai RJP.
Apakah AED aman digunakan orang biasa?
Ya.
AED dirancang untuk menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan instruksi kepada penolong.
Perangkat tidak akan menyarankan atau memberikan shock jika irama korban tidak membutuhkan defibrilasi.
Bagaimana jika saya takut salah melakukan RJP?
Jika seseorang benar-benar tidak responsif dan tidak bernapas normal, memberikan pertolongan lebih baik daripada hanya menunggu.
Hubungi layanan darurat, aktifkan speaker ponsel, dan ikuti instruksi operator sambil melakukan kompresi.
Penutup
Resusitasi Jantung Paru merupakan tindakan darurat untuk seseorang yang tidak responsif dan tidak bernapas normal atau hanya megap-megap.
Pada orang dewasa, segera hubungi layanan darurat, mulai kompresi dada 100–120 kali per menit, tekan sedalam sekitar 5–6 cm, dan gunakan AED sesegera mungkin.
Penolong yang belum terlatih dapat menggunakan Hands-Only CPR pada orang dewasa yang tiba-tiba kolaps. Penolong yang sudah terlatih dapat melakukan 30 kompresi dan 2 napas.
Pada anak dan bayi, napas bantuan lebih penting. Kedalaman kompresi sekitar sepertiga diameter dada, yaitu kurang lebih 5 cm pada anak dan 4 cm pada bayi.
Jangan menunda pertolongan karena sibuk memeriksa denyut, mencari obat, atau menunggu orang lain datang.
Dalam keadaan darurat, hubungi 119 atau layanan kegawatdaruratan setempat dan ikuti instruksi operator sampai bantuan medis tiba.
