6 Hal seputar penggunaan obat yang benar

Obat merupakan zat yang kita konsumsi atau gunakan saat sakit dan kita membutuhkan zat tertentu untuk menghilangkan atau mengurangi sakit yang kita rasakan. Minum obat merupakan hal menakutkan bagi sebagian orang, sehingga beberapa cara akan dilakukan agar obat dapat terminum. Tapi tahukah Anda bagaimana cara minum obat yang benar agar zat aktif dari obat yang Anda konsumsi dapat terserap tubuh dengan optimal? Berikut ini 6 hal yang perlu diperhatikan seputar penggunaan obat.

Cara menggunakan obat dengan benar

Cara menggunakan obat dengan benar (Ilustrasi/pixabay)

  1. Hindari minum obat bersamaan dengan buah Pisang

Pisang mengandung Tanin yang dapat menghalangi obat diserap dalam usus. Oleh karena itu akan lebih baik jika digantikan dengan biskuit atau Roti. Namun untuk obat yang aturan pakainya harus dalam keadaan perut kosong, sebaiknya gunakan Sirupus simplex jika obat tersebut dalam bentuk serbuk.

  1. Minum menggunakan air putih

Minum obat, tentu saja kegiatan ini memerlukan bantuan air minum untuk melancarkan obat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan. Namun seringkali kita abai untuk memperhatikan air minum apa yang kita gunakan. Air putih paling aman daripada Teh atau minuman lain, karena air putih cenderung tidak mempengaruhi konsentrasi obat saat berada di dalam lambung atau di dalam usus. Konsentrasi obat atau kadar obat dalam lambung dan atau usus merupakan hal penting, karena itu akan mempengaruhi berapa banyak kadar yang akan diserap tubuh untuk digunakan mengobati tubuh kita.

  1. Ikuti saran waktu minum obat

Biasanya saat menebus obat di Apotek, kita akan diberitahu kapan obatnya diminum. Memang, obat biasanya diminum setelah makan, namun tidak semua obat diminum setelah makan. Obat memiliki beberapa saran waktu minum yaitu saat perut kosong, saat makan (bersama makanan) dan setelah makan. Untuk obat dengan saran minum saat perut kosong, sebaiknya diminum antara setengah jam sampai 2 jam sebelum makan. Dan untuk obat dengan saran minum setelah makan sebaiknya diminum paling cepat setengah jam setelah makan, namun lebih baik sekitar 1-2 jam setelah makan.

Ada juga obat yang disarankan diminum tidak boleh bersamaan sehingga minum obat yang kedua dijeda paling cepat sekitar 2 jam setelah minum obat yang pertama. Saran minum obat ini dapat mempengaruhi kadar obat yang terserap dalam tubuh dan menghindari interaksi obat dengan makanan atau dengan obat.

  1. Ikuti jangka waktu minimal minum obat

Beberapa obat memiliki jangka waktu minimal untuk dikonsumsi. Untuk antibiotik jangka waktu minimal 7 hari, atau paling cepat 5 hari. Berarti untuk pemakaian 3 kali minum dalam sehari, obat yang harus diminum ialah 15 kapsul atau tablet. Untuk obat lambung seperti Omeperazole minimal 14 hari dikonsumsi, dengan aturan minum 1 kali dalam sehari. Untuk obat yang berhubungan dengan paru-paru, seperti TBC, obat perlu dikonsumsi minimal 6 bulan tanpa seharipun terlupa. Jangka waktu minimal seperti contoh-contoh tersebut merupakan jangka waktu paling cepat tubuh memulihkan diri dari penyakit yang diderita, dengan bantuan obat tertentu. Jangka waktu minimal yang dilanggar akan mengakibatkan bakteri atau penyebab penyakit resisten terhadap obat yang kita konsumsi, sehingga obat tersebut harus diganti atau dikombinasikan dengan obat lain untuk mencapai hasil optimal.

  1. Obat untuk diminum ya untuk diminum

Obat dibuat berdasarkan kegunaan dan cara aman saat digunakan atau dikonsumsi oleh pasien. Obat didesain dalam bentuk tablet biasa atau tablet gula sehingga rasanya manis, atau dalam kapsul keras atau kapsul lunak, dalam bentuk salep atau krim, dalam bentuk cair atau kental, dan lain sebagainya, itu merupakan cara dari Apoteker agar kebutuhan pasien akan obat tersebut terpenuhi dan untuk membantu meningkatkan kenyamanan pasien yang mengonsumsi obat tersebut. Obat untuk diminum tentu digunakan untuk diminum bukan untuk ditaburkan. Ada juga yang menggunakan obat antibiotik untuk diminum -dalam bentuk kapsul- namun digunakan untuk mengeringkan luka sehingga ditaburkan di luka tersebut. Padahal untuk mengeringkan luka bisa menggunakan Betadine sebagai awalan. Baru jika luka tidak kunjung membaik dan disarankan oleh tenaga kesehatan seperti dokter untuk diobati lebih lanjut menggunakan antibiotik, maka pasien dapat diberikan obat yang diminum dan atau obat yang dioles atau ditaburkan. Hal ini penting agar tubuh kita tidak sembarangan terpapar atau mendapatkan antibiotik untuk dimetabolisme di dalam tubuh.

  1. Ikuti cara konsumsi obat yang disarankan

Sediaan obat telah dirancang oleh Farmasist atau Apoteker yang bekerja di industri Farmasi. Sediaan obat tersebut tentu dibuat dengan pertimbangan kemanfaatan yang optimal dan kekurangan yang minimal, sehingga tubuh kita yang sakit mendapat manfaat maksimal dari obat tersebut.

Sediaan obat di antaranya ada yang oral seperti tablet, kapsul; ada yang parenteral seperti infus; dan sebagainya. Untuk sediaan obat tablet, juga bermacam-macam, ada tablet biasa, tablet hisap, tablet kunyah, tablet salut gula, tablet salut enterik, dan lainnya. Misal tablet hisap bukan untuk dikunyah. Tablet hisap dibuat agar zat aktifnya terserap secara perlahan melalui lidah dan rongga mulut. Jika tablet hisap langsung dikunyah, maka zat aktif obatnya tidak akan terserap dengan baik oleh tubuh. Sedangkan tablet kunyah (misalnya obat maag), dibuat agar saat sampai di lambung segera dapat menetralisir pH lambung yang terlampau asam sehingga akan ada informasi obat kunyah jangan langsung ditelan.

Obat oles untuk memar misalnya, dioles sekitar luka jangan dioleskan pada luka karena akan memperparah luka tersebut.

Sehingga jelas bahwa cara kita mengonsumsi atau mengunakan obat akan mempengaruhi jumlah zat aktif yang terserap tubuh.

Itulah beberapa informasi penting seputar penggunaan obat yang harus kita perhatikan. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

*