Isu Seputar Imunisasi
Isu Seputar Imunisasi (Ilustrasi/pixabay)

Isu Seputar Imunisasi: Benarkah?

Program imunisasi telah digiatkan sejak dulu kala untuk mencegah wabah, sakit berat, cacat, hingga kematian akibat penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah. Hingga kini, program imunisasi ini telah dilancarkan secara serius oleh 194 negara, dengan target cakupan imunisasi di atas 80%. Bila cakupan imunisasi rendah, risiko timbulnya wabah akan meningkat.

Indonesia sendiri pernah merasakan dampaknya. Pada tahun 1998, ketika kegiatan posyandu mulai melemah di era reformasi, cakupan imunisasi pun menurun di sejumlah daerah. Dampaknya pada tahun 2005-2006, terjadi wabah polio di Indonesia. Dalam beberapa bulan saja, virus polio liar menyebabkan 385 anak mengalami lumpuh dan cacat permanen. Tidak hanya itu, tercatat pada tahun 2005-2012 terdapat wabah difteri yang menyebabkan 1789 anak harus dirawat inap dan 91 anak meninggal. Dari keseluruhan penderita, diketahui 40% diantaranya dengan status imunisasi belum lengkap, dan 40% lainnya memang belum pernah imunisasi DPT.

Isu Seputar Imunisasi
Isu Seputar Imunisasi (Ilustrasi/pixabay)

Belajar dari kasus tersebut, peningkatan kesadaran masyarakat dan petugas kesehatan akan pentingnya imunisasi menjadi hal yang penting untuk meningkatkan cakupan imunisasi. Namun demikian, di beberapa daerah dilaporkan sekelompok masyarakat yang menolak imunisasi, oleh karena isu-isu yang tidak rasional mengenai imunisasi. Untuk itu, perlu kita lakukan koreksi terhadap isu-isu yang beredar tersebut.

Isu yang beredar Seputar Imunisasi

Berbagai isu yang beredar mengenai imunisasi antara lain:

  1. Imunisasi berbahaya karena mengandung bahan yang berbahaya
  2. Imunisasi dapat menyebabkan autis, cacat, hingga kematian.
  3. Vaksin mengandung lemak babi, janin anjing, janin babi, atau janin manusia yang sengaja digugurkan.
  4. Imunisasi tidak bermanfaat karena setelah imunisasi pun tetap bisa sakit.
  5. Imunisasi merupakan konspirasi Yahudi dan Amerika melalui WHO untuk melemahkan umat Islam sehingga imunisasi hanya dilakukan di negara-negara mayoritas Islam.

Menanggapi berbagai pernyataan di atas, seyogyanya kita kritis menyikapinya. Beberapa hal yang perlu diketahui oleh pembaca:

  1. Imunisasi sudah rutin dilakukan di 194 negara

Berdasarkan publikasi UNICEF Immunization Summary 2011, terdapat 194 negara yang rutin melaksanakan imunisasi, tidak terkecuali negara dengan sosial ekonomi tinggi (Amerika, Jepang, Inggris, Prancis), negara dengan mayoritas penduduk muslim (Arab, Irak, Mesir), bahkan Israel, dan negara-negara dengan sosial ekonomi menengah dan rendah di Asia dan Afrika.

  1. Imunisasi diawasi oleh institusi resmi

Institusi resmi di Indonesia yang mengawasi program imunisasi antara lain Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan), Litbangkes, Komnas/Komda Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi, Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, badan-badan penelitian di fakultas kedokteran, dan masih banyak lagi. Seluruh institusi tersebut menyatakan imunisasi aman dan bermanfaat.

  1. Imunisasi terbukti bermanfaat dan menurunkan kejadian penyakit tertentu

Perlindungan vaksin memang tidak 100%. Imunisasi melindungi sekitar 80-95%. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih dapat tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Sedangkan pada bayi/balita yang tidak diimunisasi, bila tertular penyakit tersebut dapat mengalami sakit berat, kecacatan hingga kematian.

  1. Isu imunisasi gagal bersumber dari info 50 tahun yang lalu

Isu mengenai imunisasi yang gagal bersumber dari 50-150 tahun yang lalu, itupun hanya dari 1-2 negara saja. Hasilnya tentu akan sangat berbeda dengan saat ini, di mana jenis dan cara pembuatan vaksin dewasa ini sudah sangat berbeda. Sebagai contoh, isu mengenai vaksin variola yang gagal dicetuskan di Inggris (1867-1880) dan Jepang (1872-1892). Faktanya, sejak adanya imunisasi variola, pada tahun 1980 dunia dinyatakan bebas cacar variola. Selain itu, isu mengenai vaksin difteri gagal yang berasal dari data di Jerman (1939), nyatanya vaksin difteri masih dipakai seluruh dunia dan menurunkan angka kejadian difteri hingga 95%.

  1. Imunisasi dinyatakan aman oleh seluruh negara

Pendapat bahwa imunisasi berbahaya, umumnya dimuat pada tabloid, blog, atau milis yang isinya dikutip dari artikel yang ditulis oleh psikolog, ahli statistik, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, jurnalis, dan kolumnis sebelum tahun 1960. Padahal jenis dan teknologi pembuatan vaksin telah maju pesat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Tentunya kualitas vaksin akan sangat berbeda dengan keadaan 50 tahun yang lalu.

  1. Kesalahan dalam menafsirkan KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi) sebagai angka kematian bayi akibat imunisasi

Ada pula isu negatif yang menyatakan tingginya angka kematian bayi di Amerika akibat imunisasi yang dihimpun di tabloid, milis, maupun blog. Isu tersebut mengutip dari data Vaccine Adverse Effect Event Reporting System (VAERS) dari FDA (Food and Drug Agency, semacam Badan POM) di Amerika pada tahun 1991-1994, yang tercatat ada 38.787 laporan kejadian ikutan pasca imunisasi. Oleh tabloid/blog/milis tersebut dinyatakan sebagai angka kematian bayi usia 1-3 bulan akibat imunisasi. Jika memang benar, tentunya FDA Amerika sudah menghentikan program imunisasi. Perlu diketahui bahwa KIPI merupakan segala kejadian medik yang terjadi setelah imunisasi yang diduga berkaitan dengan imunisasi, namun tidak pasti disebabkan oleh imunisasi.

  1. Penelitian mengenai vaksin MMR dapat menyebabkan autisme tidak sahih

Adalah dr. Wakefield, seorang dokter spesialis bedah, yang menyatakan dalam penelitiannya bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme. Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 1998 dengan 18 sampel. Hasil penelitian tersebut tidak sesuai dengan 26 penelitian lainnya yang mengkaji hubungan autisme dengan pemberian vaksin MMR dari tahun 1998 hingga 2010. Pada bulan November 2010, American Academy of Pediatrics mengumumkan tidak ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.

  1. Vaksin mengandung etil merkuri dalam dosis yang sangat rendah

Beberapa vaksin mengandung etil merkuri (timerosal) yang toksisitasnya sangat rendah. Etil merkuri ini berbeda dengan metil merkuri yang beracun. Etil merkuri dibutuhkan untuk mencegah pencemaran mikroba ke dalam vaksin, utamanya vaksin multidose untuk imunisasi massal.

  1. Vaksin program imunisasi di Indonesia dibuat oleh PT Biofarma, yang diekspor ke 120 negara termasuk 36 negara muslim

PT Biofarma Bandung merupakan pabrik vaksin yang telah berpengalaman selama 120 tahun memproduksi vaksin.

  1. Vaksin saat ini tidak dibuat dari janin anjing/babi/manusia yang sengaja digugurkan

Isu mengenai vaksin yang terbuat dari janin binatang dan manusia bersumber dari tulisan 50 tahun yang lalu. Saat ini teknologi pembuatan vaksin sudah sangat berkembang pesat. Produsen vaksin menyatakan saat ini sudah tidak ada vaksin yang dibuat dari janin anjing/babi/manusia.

  1. ASI dan herbal tidak dapat menggantikan imunisasi

ASI, nutrisi, ataupun suplemen herbal hanya dapat memperkuat pertahanan tubuh secara umum, namun tidak dapat membentuk antibodi spesifik terhadap kuman tertentu. Tidak ada satupun badan penelitian yang menyatakan kekebalan oleh imunisasi dapat digantikan oleh zat lain, termasuk ASI.

data-ad-format="link">
Isu Seputar Imunisasi: Benarkah? Post in | Last updated: August 30th, 2016 | 424 views
Tim Blogger Infosehatkeluarga.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *